Showing posts with label MUTIARA SALAF. Show all posts
Showing posts with label MUTIARA SALAF. Show all posts

Saturday, 11 October 2014

Tentang Cinta


Cinta yang terpuji adalah cinta yang bermanfa’at.
Cinta tersebut akan menarik hal-hal yang bermanfa’at bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat.
Cinta semacam ini merupakan inti kebahagiaan.
Sebaliknya, cinta yang tercela adalah cinta yang menarik hal-hal yang membahayakan pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus merupakan inti kesengsaraan.


[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad Daa’ wa Ad Dawaa’ halaman 474 ]

Thursday, 9 October 2014

Nasihat Salamah bin Dinar kepada Khalifah


Pada tahun 97 H, khalifah Muslimin Sulaiman bin Abdul Malik menempuh perjalanan ke negeri yang disucikan, memenuhi undangan bapak para Nabi, yakni Ibrahim alaihis salam. Iring-iringan itu bergerak dengan cepat dari Damaskus, ibukota kekhalifahan Umawiyah, menuju Madina al-Munawarah.

Ada rasa rindu pada diri khalifah di raudhah nabawi yang suci dan rindu untuk mengucapkan salam atas Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rombongan tersebut disertai para ahli qurra’ (Ahli al-qur’an), muhadditsin (ahli hadits), fuqaha (ahli fiqih), ulama, umara dan para perwira.

Setibanya khalifah di Madinah dan menurunkan perbekalan, orang-orang dari para pemuka Madinah menghampiri mereka untuk mengucapkan salam dan menyambut kedatangan khalifah.

Akah tetapi Salamah bin Dinar sebagai qadhi dan imam kota yang terpercaya, ternyata tidak termasuk ke dalam rombongan manusia yang turut menyambut dan mengucapkan salam kepada Khalifah.

Setelah selesai melayani orang-orang yang menyambutnya, Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada orang-orang yang dekat dengannya, “Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya. Mereka berkata, “Benar, wahai amirul mukminin.” Lalu beliau berkata, “Tidak adakah di Madinah ini seseorang yang bisa menasihati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan para sahabat Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ada wahai amirul mukminin, di sini ada Abu Hazim al-A’raj.”

Beliau bertanya, “Siapa itu Abu Hazim?” Mereka menjawab, “Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia dan imam di kota Madinah. Beliau termasuk saslah satu tabi’in yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama.” Khalifah berkata, “Kalau begitu panggilah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau.”



Para pembantu khalifah pun pergi memanggil Sulaiman bin Dinar.

Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.

Khalifah: “Mengapa anda demikian angkuhnya terhadapku, wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim: “Angkuh yang bagaimana yang anda maksud dan anda lihat dari saya wahai Amirul Mukminin?”

Khalifah: “Semua tokoh Madinah datang menyambutku, sedang anda tidak menampakkan diri sama sekali.”

Abu Hazim: “Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan anda belum mengenal saya dan sayapun belum pernah melihat anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?”

Khlaifah: “Benar alasan syaikh dan khalifah telah salah berprasangka. Dalam benakku banyak masalah yang ingin aku utarakan kepada anda wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim: “Katakanlah wahai Amirul Mukminin, Allah tempat memohon pertolongan.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim mengapa kita membenci kematian?”

Abu Hazim: “Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran.”

Khalifah; “Anda benar wahai Abu Hazim. Apa bagian kita di sisi Allah kelak?”

Abu Hazim: “Bandingkan amalan anda dengan kitabullah, niscaya anda bisa mengetahuinya.”

Khalifah: “Dalam ayat yang mana saya dapat menemukannya?”

Abu Hazim: “Anda bisa temukan dalam firman-Nya yang suci:


إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh keni'matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Surah. Al-Infitar [82] : 13-14)

Khslifah: “Jika demikian, dimanakah letak rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala?”

Abu Hazim: (membaca firman Allah):


إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah itu amat dekat dengan mereka yang berbuat kebajikan.” (QS Al-A’raf [7]: 56)

Khalifah: “Lalu bagaimana kita menghadap Allah kelak, wahai Abu Hazim?”

Abu Hazim: “Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari lalu diseret kepada majikannya yang keras.”

Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya, kemudian berkata...
Khalifah: “Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?”

Abu Hazim: “Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muru’ah (menjaga kehormatan).”

Khalifah: “Bagaimana memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah I?”

Abu Hazim: “Bila anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkannya di tempat yang benar pula lalu anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku siapakah manusia yang paling mulia itu?”

Abu Hazim: “Yaitu orang-orang yang menjaga muru’ah dan bertakwa.”

Khalifah: “Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?:”

Abu Hazim: “Perkataan benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharapkan bantuannya.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, doa manakah yang paling mustajab?”

Abu Hazim: “Doa orang-orang baik untuk orang-orang baik.”

Khalifah: “Sedekah manakah yang paling utama?”

Abu Hazim: “Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang membutuhkan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?”

Abu Hazim: “Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah  lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.”

Khalifah: “Siapakah orang yang paling dungu?”

Abu Hazim: “Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya, padahal kawannya tersebut orang yang dzalim. Maka pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia yang lain.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, maukah engkau mendampingi kami agar kami bisa mendapatkan sesuatu darimu dan anda mendapatkan sesuatu dari kami?”

Abu Hazim: “Tidak, wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah: “Mengapa?”

Abu Hazim: “Saya khawatir kelak akan condong kepada anda sehingga Allah menghukum saya dengan kesulitan di dunia dan siksa di akhirat.”

Khalifah: “Utarakanlah kebutuhan anda kepada kami wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim tidak menjawab sehingga Khalifah mengulangi pertanyaannya: “Wahai Abu Hazim, utarakan hajat-hajatmu, kami akan memenuhi sepenuhnya..”

Abu Hazim: “Hajat saya adalah selamat dan masuk surga.”

Khalifah: “Itu bukan wewenang kami, wahai Abu Hazim.”

Abu Hazim: “Saya tidak memiliki keperluan selain itu wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, berdoalah untukku.”

Abu Hazim: “Ya Allah bila hamba-Mu Sulaiman ini adalah orang yang Engkau cintai, maka mudahkanlah jalan kebaikan baginya di dunia dan di akhirat. Dan jika dia termasuk musuh-Mu, maka berilah dia hidayah kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai. Amin.”

Salah satu hadirin berkata: “Alangkah buruknya perkataanmu tentang Amirul Mukminin. Engkau sebutkan khalifah muslimin barangkali termasuk musuh Allah ? Kamu telah menyakiti perasaannya.

Abu Hazim: “Justru perkataanmu itulah yang buruk. Ketahuilah bahwa Allah telah mengambil janji dari para ulama agar berkata jujur:


وَإِذَ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,"” (QS Al-Imran [3] : 187)

Beliau menoleh kepada Khalifah seraya berkata: “Wahai Amirul Mukminin, umat-umat terdahulu tinggal dalam kebaikan dan kebahagiaan selama para pemimpinnya selalu mendatangi ulama untuk mencari kebenaran pada diri mereka. Kemudian muncullah kaum dari golongan rendah yang mempelajari berbagai ilmu mendatangi para amir untuk mendapatkan suatu kesenangan dunia. Selanjutnya para amir itu tidak lagi menghiraukan perkataan ulama, mereka pun menjadi lemah dan hina di mata Allah . Seandainya segolongan ulama itu tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi para amir, tentulah amir-amir tersebut akan mendatangi mereka untuk mencari ilmu. Tetapi karena para ulama menginginkan apa yang ada di sisi para amir, maka para amir tak mau lagi menghiraukan ucapannya.”

Khalifah: “Anda benar. Tambahkanlah nasihat untukku wahai Abu Hazim, aku benar-benar tidak mendapati hikmah yang lebih dekat dengan lisannya daripada anda.”

Abu Hazim: “Bila anda termasuk orang yang suka menerima nasihat, maka apa yang saya utarakan tadi cukuplah sebagai bekal. Tetapi bila tidak dari golongan itu, maka tidak perlu lah aku memanah dari busur yang tak ada talinya.”

Khalifah: “Wahai Abu Hazim, aku berharap anda mau berwasiat kepadaku.”

Abu Hazim: “Baiklah, akah saya katakan dengan ringkas. Agungkanlah Allah  dan jagalah, jangan sampai Dia melihat anda dalam keadaan yang tidak disukai-Nya dan tetaplah anda berada di tempat yang diperintahkan-Nya.”

Setelah itu Abu Hazim mengucapkan salam dan mohon diri. Khalifah berkata, “Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan wahai seorang alim yang suka menasihati.”


Sumber: Suwaru min Hayaati at-Tabi’in (edisi Indonesia), Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, At-Tibyan, hal. 163-168)


Source:Khayla.net

Thursday, 2 October 2014

Kenapa Anakmu Nakal?



Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

Jika aku memperhatikan penyebab kenakalan anak, maka aku dapati pada umumnya adalah berasal dari pihak orang tua mereka sendiri. Dan sesungguhnya faktor penyebab kenakalan anak-anak tak lain adalah berasal dari pihak orang tua mereka sendiri dikarenakan telah menyia-nyiakan mereka. Dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnah yang dengan begitu berarti telah menelantarkan mereka sejak masa kecilnya. Hingga pada akhirnya, anak-anak itupun menjadi pribadi-pribadi tidak berguna bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfa’at bagi orang tua mereka.
Wal ‘iyadzu billaah


(Tuhfatul Maudud: 232)

Tuesday, 23 September 2014

Cara Mengetahui Kadar Cintamu


Jika engkau ingin mengetahui kadar cintamu - juga kadar cinta selainmu - kepada Allah, maka lihatlah kadar kecintaanmu terhadap Al-Qur'an dalam hatimu. Kelezatanmu dengan mendengar firman-Nya seharusnya jauh lebih besar daripada kelezatan yang dirasakan orang-orang yang mencintai musik dan nyanyian. Termasuk perkara yang umum diketahui bahwa siapa yang mencintai seseorang pasti mencintai ucapan dan perkataannya pula, sebagaimana dikatakan oleh penya'ir:


Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku,lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku?
Tidakkah kau perhatikan apa yang ada di dalamnya,yang merupakan kelezatan seruank-Ku.

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu berkata; "Sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan pernah kenyang dengan firman Allah."

[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' halaman 546-547 ]

Tuesday, 16 September 2014

Derita Kasmaran


Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta,
Meskipun ia merasakan manisnya cinta.
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu,
Karena takut berpisah atau karena rindu.

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih,
Namun, bila kekasihnya dekat,
Ia menangis karena takut berpisah.

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan,
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba.

Pelakunya memang merasakan kenikmatan,
Namun, sebenarnya...
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati.

- Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' hal. 496

Tuesday, 1 April 2014

Delapan Mutiara Hatim Al A’sham

Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’sham, “Berapa lama kamu telah belajar kepadaku?” Hatim menjawab: “Sudah selama 33 tahun.” Syaqiq bertanya lagi, “Apa yang kamu pelajari dariku selama itu?” Hatim menjawab, “Ada delapan perkara.” Syaqiq berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!” Hatim menjawab, “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong.” Syaqiq kemudian berkata lagi, “Coba jelaskan kepadaku apa yang sudah kamu pelajari.”
Murid (Hatim) menjawab:

Pertama, “Ketika aku memperhatikan makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, tetapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya. Ia pun merasa kecewa karena kekasihnya tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.”

Kedua, “Saya memperhatikan (merenungkan) firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠)فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (٤١)
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An-Nazi’at: 40-41)
Maka saya berusaha keras untuk meneguhkan diri dalam menundukkan hawa nafsu, hingga nafsu saya mampu tegar atau tenang (tidak goyah) diatas ketaatan kepada Allah.”

Ketiga, “Saya memperhatikan manusia, dan saya amati masing-masing memiliki sesuatu yang berharga, yang dia menjaganya agar barang tersebut tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Qs. An-Nahl: 96)
Oleh karena itu, apabila setiap aku memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, segera saja aku serahkan kepada Allah, agar milikku terjaga bersama-Nya dan tidak hilang (agar kekal di sisi Allah).”

Keempat, “Saya memperhatikan manusia dan saya ketahui masing-masing mereka membanggakan hartanya, pangkatnya (kedudukannya) dan nasabnya (keturunannya). Kemudian aku memperhatikan firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
Maka aku berbuat dalam koridor takwa (aku kerjakan konsekuensi takwa), hingga menjadikan aku di sisi Allah, sebagai orang yang mulia.”

Kelima, “Saya memperhatikan manusia dan (saya tahu) mereka saling mencela dan mengumpat antara satu dan lainnya. Saya tahu masalah utamanya di sini adalah sifat iri hati (dengki). Maka saya kemudian memperhatikan firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(Qs. Az-Zukhruf: 32)
Maka saya kemudian meninggalkan sifat iri hati dan menghindar dari banyak orang, karena saya tahu bahwa pembagian rejeki itu benar-benar dari Allah, yang menjadikanku tidak patut memusuhi dan iri kepada orang lain.”

Keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).” (Qs. Fathir: 6)
Maka aku tinggalkan permusuhan diantara manusia, karena itu setan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan setan adalah musuhku.”

Ketujuh, “Saya memperhatikan manusia, maka saya melihat masing-masing diantara mereka memasrahkan jiwanya dan menghinakan diri mereka sendiri dalam mencari rezeki. Bahkan ada diantara mereka yang berani melihat kepada firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya.” (Qs. Hud: 11)
Saya kemudian menyadari bahwa saya adalah salah satu dari makhluk melata, sehingga Allah pasti akan menanggung rezekinya. Maka saya menyibukkan diri dengan apa yang menjadi hak Allah dan saya tinggalkan hak saya atas Allah. (Saya meninggalkan apa-apa yang tidak dibagikan kepadaku).”

Kedelapan, “Saya memperhatikan manusia, maka saya lihat masing-masing dari mereka menyerahkan diri (bertawakkal) kepada sesama makhluk (orang ataupun barang). Ada yang menyandarkan hidupnya kepada sawah ladangnya, sebagian karena perniagaannya, sebagian karena hasil karya produksinya, sebagian lain karena kesehatan badannya dan simpanannya/tabungannya. Maka saya melihat kepada firman Allah:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya.”(Ath-Thalaaq: 3)
Maka saya kemudian menyerahkan diri dan mempercayakan semuanya kepada Allah karena Dia akan mencukupi segala keperluanku.
Mendengar pernyataan-pernyataan Hatim, sang guru yaitu Imam Syaqiq al-Balkhi mendo’akannya, “Semoga Allah memberi berkah kepadamu…!”
***
Ditulis ulang dari buku Jadilah Dokter Muslim Sejati, halaman 247-274, karya Djoko Kuswanto, penerbit Wafa Press
Muslimah.Or.Id

Monday, 31 March 2014

Keadaan Seorang Mukmin

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,
“Manusia terdiri dari tiga golongan: mukmin, kafir, dan munafik.
Orang mukmin, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlakukan mereka sesuai dengan ketaatannya.
Orang kafir, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan mereka sebagaimana kalian lihat.
Adapun orang munafik, mereka ada di sini, bersama kita di rumah-rumah, jalan-jalan, dan pasar-pasar. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, mereka tidak mengenal Rabb mereka. Hitunglah amalan jelek mereka sebagai bentuk ingkar mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sungguh, tidaklah seorang mukmin memasuki waktu pagi melainkan dalam keadaan cemas, meski telah berbuat baik. Tidak pantas baginya selain demikian. Ia pun memasuki waktu sore dalam keadaan khawatir, meski telah berbuat baik. Sebab, dia berada di antara dua kekhawatiran:
• Dosa yang telah berlalu; dia tidak tahu apa yang akan Allah Subhanahu wa Ta’ala lakukan terhadap dosanya (apakah diampuni atau tetap dibalasi dengan azab, -red.).
• Ajal yang tersisa (dalam hidupnya); dia tidak tahu kebinasaan apa saja yang akan menimpanya pada masa yang akan datang.”
(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 57-58)
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 95/VIII/1434 H/2013, rubrik Permata Salaf.
Artikel : atsar salaf

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Berapa banyak orang yang mencelakan anaknya -belahan hatinya- di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 351)
Beliau rahimahullah menyatakan pula,
“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 337)
[Diambil dari Huququl Aulad 'alal Aba' wal Ummahat, hlm. 8-9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah]
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 96/VIII/1434 H/2013, rubrik Permata Salaf.

Sebab Penyimpangan

Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah mengatakan,
“Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, saya telah merenungkan sebab yang mengeluarkan sekelompok orang dari as-Sunnah dan al-Jamaah, memaksa mereka menuju kebid’ahan dan keburukan, membuka pintu bencana yang menimpa hati mereka, dan menutupi cahaya kebenaran dari pandangan mereka.
Saya temukan sebabnya dari dua sisi:
1. Mencari-cari, berdalam-dalam, dan banyak bertanya yang tidak perlu (tentang masalah tertentu), yang tidak membahayakan seorang muslim kalau ia tidak tahu, serta tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin seandainya ia tahu.
2. Duduk bersama dan bergaul dengan orang yang tidak dirasa aman dari kejelekannya, yang berteman dengannya akan merusak kalbu.”
(al-Ibanah, karya Ibnu Baththah rahimahullah, 1/390)
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 97/IX/1435 H/2013, rubrik Permata Salaf.
artikel : atsar salaf

Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.
Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.
Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannnya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.
Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”
[Mawa'izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41-42]
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 94/VII/1434 H/2013, rubrik Permata Salaf.
artikel : atsar salaf

Wednesday, 29 January 2014

Catatan Perkataan

Ya’la bin Ubaid berkata: “Kami mendatangi Ibn Suqah, dan dia berkata: “Wahai keponakanku, akan kukabarkan kepadamu sebuah perkataan yang semoga bermanfaat bagimu sebagaimana ia benar-benar bermanfaat bagiku.

Atha bin Abi Rabbah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian memandang perkataan yang berlebihan adalah selain Kitabullah, atau mengajak kepada kebaikan atau melarang dari keburukan, atau berbicara tentang kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Apakah kalian mengingkari bahwa bersama kalian ada malaikat pencatat, duduk di sisi kanan dan kiri? Tidak ada kata yang terucap melainkan ada pengawas yang siap mencatatnya. Tidakkah merasa malu salah seorang diantaramu ketika lembar catatannya dibentangkan dan tak ada sesuatu pun di dalamnya dari urusan akhirat?”

إن من قبلكم كانوا يعدون فضول الكلام ما عدا كتاب الله، أو أمر بمعروف، أو نهي عن منكر، أو أن تنطق في معيشتك التي لابد لك منها، أتنكرون أن عليكم حافظين كراما كاتبين، عن اليمين وعن الشمال قعيد، ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد، أما يستحي أحدكم لو نشرت صحيفته التي أملى صدر نهاره، وليس فيها شئ من أمر آخرته


(Imam Adz-Dzahabi, Siyar Aalam an-Nubalaa 5:86)


taken from : a learning page

Tertutupnya Pintu Taufiq

Syaqiq bin Ibrahim berkata: "pintu taufiq tertutup bagi manusia dalam enam perkara:

  1. Sibuk dengan nikmat daripada mensyukurinya, 
  2. Senang mencari ilmu, tetapi tidak mengamalkannya,
  3. Cepat melakukan dosa, namun lambat dalam bertaubat, 
  4. Terpedaya, yaitu bergaul dengan orang-orang shalih namun tidak mau meniru perbuatan mereka, 
  5. Terus mengejar dunia ketika sesuatu yang fana ini berlari membelakanginya, 
  6. Berpaling dari akhirat justu pada saat sesuatu yang abadi ini mendatanginya."

قال شقيق بن إبراهيم اغلق باب التوفيق عن الخلق من ستة أشياء اشتغالهم بالنعمة عن شكرها ورغبتهم في العلم وتركهم العمل والمسارعة إلى الذنب وتأخير التوبة والاغترار بصحبة الصالحين وترك الإقتداء بفعالهم وادبار الدنيا عنهم وهم يتبعونها وإقبال الآخرة عليهم وهم معرضون عنها


 Al-Fawa’id (177/1), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


taken from :  a learning page

Jiwa, Antara yang Mulia dan yang Rendah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah - rahimahullah- berkata:
Jiwa yang mulia
hanya rela menerima sesuatu yang paling tinggi, paling utama, dan paling terpuji kesudahannya. Sedangkan jiwa yang rendah hanya akan mengurusi hal-hal yang nista hingga terjerumus ke dalamnya, sebagaimana lalat yang terperosok ke dalam sesuatu yang menjijikkan.


فالنفوس الشريفة لا ترضي من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار


Al-Fawa'id (177/1)

taken from : a learning page

Friday, 23 August 2013

BIARKANLAH HARI-HARI MELAKUKAN APA YANG IA KEHENDAKI


Al-Imam As-Syafi'i rahimahullah berkata :

دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ ** وطِبْ نَفْساً إذا حكمَ القضاءُ

Biarkanlah hari-hari melakukan apa yang ia inginkan…. Tenangkanlah dirimu jika takdir telah memutuskan

وَلا تَجْزَعْ لِحَادِثة الليالي ** فَمَا لحوادثِ الدنيا بقاءُ

Janganlah engkau gelisah dan berkeluh kesah dengan kejadian/musibah malam hari…
Sesungguhnya musibah dunia tidak akan kekal


وكنْ رجلاً على الأهوالِ جَلَداً ** وَشِيْمَتُكَ السَّمَاحَةُ وَالْوَفَاءُ

Jadilah engkau seorang lelaki tegar dalam kesulitan…Perangaimu adalah memaafkan dan menepati janji

وإنْ كثرتْ عُيُوبُكَ في الْبَرَايَا ** وسَرَّكَ أَنْ يَكُونَ لَها غِطَاءُ

Jika banyak aibmu di hadapan manusia….dan kau senang jika ada penutup bagi aib-aibmu

تَسَتَّرْ بِالسَّخَاء فَكُلُّ عَيْب ** يغطيه كما قيلَ السَّخاءُ

Maka hendaknya engkau menutupi aibmu dengan kedermawanan, karena seluruh aib tertutupi –sebagaimana dikatakan- yaitu dengan kedermawanan

ولا ترجُ السماحةََ من بخيلٍ ** فَما فِي النَّارِ لِلظْمآنِ مَاءُ

Janganlah engkau mengharapkan kebaikan dari seorang yang pelit… orang yang kehausan tidak akan mendapatkan air di api

وَرِزْقُكَ لَيْسَ يُنْقِصُهُ التَأَنِّي ** وليسَ يزيدُ في الرزقِ العناءُ

Rejekimu tidaklah akan terkurangi dengan sikap tenang (dalam bekerja)…dan tidak akan menambah rejekimu dengan (ngotot) kepayahan

وَلا حُزْنٌ يَدُومُ وَلا سُرورٌ ** ولا بؤسٌ عليكَ ولا رخاءُ

Tidak ada kesedihan yang berkesinambungan demikian pula dengan kesenangan yang bersambung-sambung….
demikian juga tidak ada kesengsaraan dan kemakmuran yang terus menerus


وَمَنْ نَزَلَتْ بِسَاحَتِهِ الْمَنَايَا ** فلا أرضٌ تقيهِ ولا سماءُ

Barang siapa yang didatangi oleh ajalnya… maka tidak ada bumi dan langit yang akan menaunginya

وأرضُ الله واسعةً ولكن ** إذا نزلَ القضا ضاقَ الفضاءُ

Sesungguhnya bumi Allah luas…akan tetapi jika telah datang taqdir kematian maka sempitlah terasa padang yang luas








Sunday, 3 February 2013

FAEDAH MEMAAFKAN


Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata :


لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ

Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun…
Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan

إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ

Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya…untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam

وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ

Aku menampakan senyum kepada orang yang aku benci… sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan

النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ

Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan mendekati mereka… dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta kasih

Friday, 25 January 2013

Jangan Tertipu

Hasan al-Bashri rahimahullah menasihati sebagian muridnya dan menperingatkan mereka untuk menghindari rasa puas (terhadap diri sendiri). Beliau berkata:

1. Jangan pedaya dirimu dan menjadi sangat puas karena berada pada lingkungan yang baik (shalih), karena tidak ada tempat yang lebih baik dari Surga, dan bapak kita Adam alaihis salam mengalami apa yang kita semua mengetahuinya.

2. Jangan merasa puas hanya karena engkau sering beribadah, ingatlah apa yang tejadi pada iblis setelah menghabiskan banyak waktu untuk beribadah.

3. Jangan merasa dirimu besar karena telah bertemu dengan orang-orang yang shalih, karena tidak ada orang yang lebih shalih dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi kaum musyrikin dan orang-orang munafik tidak mendapatkan manfaat hanya dengan mengenal beliau.

* * *

Terjemahan bebas dari Al-Lu’lu’ al-Mantsur - Gems & Jewels; Wise Sayings, Interesting Events and Moral Lessons from Islamic History. Compiled by Abdul Malik Mujahid, Penerbit Darussalam, hal. 182. (sumber kitab asli tidak tercantum)
Sumber : A Learning Page

Tuesday, 3 May 2011

Terburu-buru adalah dari Syaithan kecuali dalam Lima Perkara

Haatim al-Assam berkata:
Terburu-buru itu dari syaithan, melainkan lima hal:
1. Memberi makan tamu ketika dia datang
2. Mengurus jenazah ketika (seseorang) meninggal
3. Menikahkan anak gadis ketika telah mencukupi umurnya
4. Membayar utang ketika tiba waktunya
5. Bertaubat dari dosa ketika berbuat dosa.
 =====================


قال حاتم كان يقال العجلة من الشيطان إلا في خمس
إطعام الطعام إذا حضر الضيف
وتجهيز الميت إذا مات
وتزويج البكر إذا أدركت
وقضاء الدين إذا وجب
والتوبة من الذنب إذا أذنب


Haatim al-Assam stated:
Haste is from the Shaytaan except in five cases:
1. Feeding the guest when he arrives.
2. Preparing the deceased when he dies.
3. Marrying off the virgin when she reaches the appropriate age.
4. Paying off the debt when its due.
5. Repenting from a sin when a sin is commited.

Sumber: Hilyah al-Aulia Abu Nu’aim al-Ashbahani (8/78) dalam Subulussalaam.com

Artikel Ummu Zakaria

Friday, 18 March 2011

Kisah Taubat Al-Fudhail bin Iyadh

Al-Fudhail bin Iyadh salah seorang dari ulama Salafus Shalih. Berikut ini adalah kisah taubat beliau rahimahulllah.

Dari Al-Fadhl bin Musa, dia berkata: “
كان الفضيل بن عياض شاطرا يقطع الطريق بين أبيورد وسرخس، وكان سبب توبته أنه عشق جارية، فبينا هو يرتقي الجدران إليها، إذا سمع تاليا يتلو (ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم..) [ الحديد: 16 ] فلما سمعها، قال: بلى يا رب، قد آن، فرجع، فآواه الليل إلى خربة، فإذا فيها سابلة، فقال بعضهم: نرحل، وقال بعضهم: حتى [ نصبح ] (1) فإن فضيلا على الطريق يقطع علينا.
قال: ففكرت، وقلت: أنا أسعى بالليل في المعاصي، وقوم من المسلمين هاهنا، يخافوني، وما أرى الله ساقني إليهم إلا لارتدع، اللهم إني قد تبت إليك، وجعلت توبتي مجاورة البيت الحرام.



“Al-Fuhdail bin Iyadh dahulu adalah seorang perampok yang menghadang di jalan antara Abyurd dan Sarkhas. Adapun penyebab taubatnya adalah karena beliau mencintai seorang gadis. Suatu kali beliau memanjat dinding untuk menemuinya ketika beliau mendengar seseorang membaca ayat berikut:


“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka…” (QS Al-Hadid : 16)


Ketika mendengarnya beliau berkata: “Benar ya Rabb, inilah saatnya,” dan dia pun kembali dan mencari tempat untuk menginap di reruntuhan bangunan, dan di sana dia mendapat sekelompok orang yang melewati jalan. Sebagian dari mereka berkata, “Mari terus berjalan.” Sebagian lainnya berkata, “Tunggulah hingga pagi, karena Fudhail berada di sekitar sini dan dia akan merampok kita.” Al-Fudhail berkata, “Maka aku pun berpikir dan berkata: “Aku menghabiskan malam dengan berbuat maksiat dan ada sekolompok kaum muslimin di sini takut kepadaku, dan aku berpikir bahwa tidaklah Allah membawaku ke sini kecuali untuk mengambil pelajaran (agar menghentikan perbuatan tersebut). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu. Dan menjadikan taubatku dengan berdiam (tinggal) di Baitul Haram (Makkah).”


Sumber: Siyar A’lam an-Nubala Imam Adz-Dzahabi dalam Biografi Fudhail bin Iyadh 8/422. (Dikutip dari Maktabah asy-Syamilah v3.0

http://www.khayla.net/
Artikel Ummu Zakaria

Hai Miskin!

Al-Fuhdail bin Iyadh berkata:

يا مسكين، أنت مسئ وترى أنك محسن، وأنت جاهل وترى أنك عالم، وتبخل وترى أنك كريم، وأحمق وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل.
قلت: إي والله، صدق، وأنت ظالم وترى أنك مظلوم، وآكل للحرام وترى أنك متورع، وفاسق وتعتقد أنك عدل، وطالب العلم للدنيا وترى أنك تطلبه لله.


“Wahai si Miskin! Engkau pelaku maksiat dan kamu memandang dirimu seorang yang baik, Engkau seorang yang jahil dan kamu memandang dirimu alim (berilmu), engkau seorang yang kikir dan kamu memandang dirimu dermawan, dan engkau seorang yang pandir dan kamu memandang dirimu berakal. Waktumu singkat, dan harapanmu panjang.

Saya (Adz-Dzahabi) berkata: “Ya, Demi Allah beliau benar. Dan engkau seorang yang dzalim dan kamu memandang dirimu orang yang terdzalimi, dan kamu memakan yang haram dan memandang dirimu orang yang berhati-hati (menahan diri dari yang haram -red), dan engkau seorang fasik dan meyakini dirimu adil, dan kamu menuntut ilmu untuk dunia dan memandang bahwa dirimu menuntut ilmu karena Allah"

Sumber: Siyar Alam an-Nubalaa Biografi Fudhail bin Iyadh (8/440) (matan: Maktabah Syamilah v 3)


***



Al Fudayl ibn ‘Iyaad said,
“O Miskeen! You are an evil-doer and you think yourself to be one who does good. You are an ignoramus and you think yourself to be a scholar. You are a miser and you think yourself to be generous. O foolish one! You see that you are intelligent. Your time is short, but your hope is long.”

[Adh-Dhahabi]: I say: Yes, by Allah, he has spoken the truth. And you are an oppressor and you think yourself to be the one who is oppressed. And you eat what is unlawful and you think that you are cautious and fearful (in this regard). And you are a sinner and you think yourself to be just and upright. And you seek the knowledge (of the religion) for the world, and yet you think that you seek it for Allaah.
Source of translation: tawheedfirst.wordpress.com

http://www.khayla.net/
Artikel Ummu Zakaria