Showing posts with label IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH. Show all posts
Showing posts with label IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH. Show all posts

Saturday, 1 November 2014

Obat Bagi Penderita Kasmaran


Ketahuilah Saudaraku, bahwasanya ada suatu penyakit yang apabila tidak diobati dapat merusak iman dan akal sehat penderitanya. Penyakit yang biasanya menimpa kawula muda ini bernama kasmaran.
Mengapa kasmaran dinamakan penyakit yang berbahaya dan harus diobati? Hal ini dikarenakan si penderita lebih sibuk mencintai dan mengingat makhluk sehingga lalai mencintai serta mengingat Allah. Si penderita juga akan merasakan tersiksanya hati karena makhluk yang dicintai. Siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah pasti akan tersiksa karenanya. Hidup orang yang kasmaran seperti halnya tawanan yang terikat. Sebaliknya, hidup orang yang terbebas pikirannya dari mabuk cinta adalah lepas dan merdeka. Seperti dikatakan penya’ir:
    Ia bebas dalam pandangan mata, padahal sebenarnya tawanan
    Yang sakit dan mengelilingi pusat kebinasaan
    Ia adalah mayat yang terlihat hidup dan berjalan
    Yang tidak akan bangkit meski tiba hari Kebangkitan
    Hatinya hilang dalam gemuruh kesengsaraan
    Yang tidak tersadarkan hingga kematian menjemput
Jika kasmaran kuat dan kokoh di hati penderita, niscaya ia akan merusak pikiran dan lalai dari kemaslahatan agama dan dunianya. Semakin hati itu dekat dengan cinta semu, ia pun akan semakin menjauh dari Allah sehingga syaiton pun mudah menguasai dirinya.
Dengan demikian, penyakit kasmaran perlu untuk diobati. Rasulullah bersabda,

لكل داءٍ دواءٌ، فإذا أُصِيبَ دواءُ الداء، بَرَأَ بإذن الله عزَّ وجل

Artinya: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR.Muslim)

Berikut beberapa trik mengatasi kasmaran:

Langkah pertama, Obat penyakit yang fatal ini dimulai dari kesadaran penderita bahwa cobaan yang menimpanya merupakan lawan dari tauhid. Hal ini terjadi karena kebodohan dan kelalaian hatinya kepada Allah. Oleh sebab itu, wajib baginya mengetahui hakikat tauhid kepada Allah, sunnah-sunnahNya, dan ayat-ayatNya.

Selanjutnya, dia harus melaksanakan seluruh ibadah baik lahir maupun batin supaya hatinya sibuk sehingga tidak berpikir tentang kasmarannya. Ia juga harus memperbanyak ketundukan hati dan bersandar kepadaNya untuk memalingkan perasaan cinta tersebut dengan mengembalikan hatinya kepada Allah. Tidak ada obat yang lebih bermanfaat daripada ikhlas kepada Allah. Inilah obat yang disebutkan dalam kitabNya sebagaimana firman-Nya :

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: “… Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Hendaklah si penderita kasmaran berusaha dengan gigih untuk mengobati penyakit kasmarannya, karena kasmaran hanya manis pada awalnya tetapi pada pertengahannya menyebabkan kesulitan, kesibukan hati, bahkan penyakit jiwa lalu akhirnya adalah ‘kebinasaan dan pembunuhan’. Na’udzubillah.

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar kita senantiasa melakukan amalan ketaatan dan meninggalkan amalan yang sia-sia.
—-
Penyusun: Dwi Pertiwi
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi : “Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’”. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
Artikel www.muslimah.or.id

Saturday, 11 October 2014

Tentang Cinta


Cinta yang terpuji adalah cinta yang bermanfa’at.
Cinta tersebut akan menarik hal-hal yang bermanfa’at bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat.
Cinta semacam ini merupakan inti kebahagiaan.
Sebaliknya, cinta yang tercela adalah cinta yang menarik hal-hal yang membahayakan pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus merupakan inti kesengsaraan.


[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad Daa’ wa Ad Dawaa’ halaman 474 ]

Thursday, 2 October 2014

Kenapa Anakmu Nakal?



Kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah:

Jika aku memperhatikan penyebab kenakalan anak, maka aku dapati pada umumnya adalah berasal dari pihak orang tua mereka sendiri. Dan sesungguhnya faktor penyebab kenakalan anak-anak tak lain adalah berasal dari pihak orang tua mereka sendiri dikarenakan telah menyia-nyiakan mereka. Dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama serta sunnah-sunnah yang dengan begitu berarti telah menelantarkan mereka sejak masa kecilnya. Hingga pada akhirnya, anak-anak itupun menjadi pribadi-pribadi tidak berguna bagi diri mereka sendiri dan tidak pula bermanfa’at bagi orang tua mereka.
Wal ‘iyadzu billaah


(Tuhfatul Maudud: 232)

Tuesday, 23 September 2014

Cara Mengetahui Kadar Cintamu


Jika engkau ingin mengetahui kadar cintamu - juga kadar cinta selainmu - kepada Allah, maka lihatlah kadar kecintaanmu terhadap Al-Qur'an dalam hatimu. Kelezatanmu dengan mendengar firman-Nya seharusnya jauh lebih besar daripada kelezatan yang dirasakan orang-orang yang mencintai musik dan nyanyian. Termasuk perkara yang umum diketahui bahwa siapa yang mencintai seseorang pasti mencintai ucapan dan perkataannya pula, sebagaimana dikatakan oleh penya'ir:


Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku,lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku?
Tidakkah kau perhatikan apa yang ada di dalamnya,yang merupakan kelezatan seruank-Ku.

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu berkata; "Sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan pernah kenyang dengan firman Allah."

[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' halaman 546-547 ]

Tuesday, 16 September 2014

Derita Kasmaran


Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta,
Meskipun ia merasakan manisnya cinta.
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu,
Karena takut berpisah atau karena rindu.

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih,
Namun, bila kekasihnya dekat,
Ia menangis karena takut berpisah.

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan,
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba.

Pelakunya memang merasakan kenikmatan,
Namun, sebenarnya...
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati.

- Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' hal. 496

Monday, 31 March 2014

Pengaruh Orang Tua Terhadap Anak

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Berapa banyak orang yang mencelakan anaknya -belahan hatinya- di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 351)
Beliau rahimahullah menyatakan pula,
“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 337)
[Diambil dari Huququl Aulad 'alal Aba' wal Ummahat, hlm. 8-9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah]
Sumber: Majalah Asy Syariah no. 96/VIII/1434 H/2013, rubrik Permata Salaf.

Wednesday, 29 January 2014

Jiwa, Antara yang Mulia dan yang Rendah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah - rahimahullah- berkata:
Jiwa yang mulia
hanya rela menerima sesuatu yang paling tinggi, paling utama, dan paling terpuji kesudahannya. Sedangkan jiwa yang rendah hanya akan mengurusi hal-hal yang nista hingga terjerumus ke dalamnya, sebagaimana lalat yang terperosok ke dalam sesuatu yang menjijikkan.


فالنفوس الشريفة لا ترضي من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار


Al-Fawa'id (177/1)

taken from : a learning page

Thursday, 10 February 2011

Look for Your Heart in Three Places

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah said:


اُطْلُبْ قَلْبَكَ فِيْ ثَلاَثِ مَوَاطِنَ:
عِنْدَ سَمَاعِ اْلقُرْآنِ، وَفِيْ مَجَالِسِ الذِّكْرِ، وَفِيْ أَوْقَاتِ اْلخُلْوَةِ
فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِيْ هَذِهِ اْلمَوَاطِنَ
فَسَلِ اللهَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ، فَإِنَّهُ لاَ قَلْبَ لَ
كَ

Look for your heart in three places:
when listening to the Qur’an,
When sitting in the gathering of knowledge
and when in privacy.
If you cannot find it in these places,
then ask Allah to bless you with a heart,
for indeed you have no heart.”

Carilah hatimu di tiga tempat:
Pada saat mendengarkan Al-Qur'an;
di majelis dzikir (ba'da shalat, menuntut ilmu syar'i dan lain-lain),
ketika sedang menyendiri. Jika kamu tidak mendapatkannya di tiga tempat itu,
maka memohonlah kepada Allah agar memberimu hati,
karena sesungguhnya kamu tidak mempunyai hati.



Source: Al-Fawa'id by Ibnu Qayyim al-jauziyyah

http://www.khayla.net/
**Artikel: Ummu Zakaria