Showing posts with label SYAQIQ. Show all posts
Showing posts with label SYAQIQ. Show all posts

Tuesday, 1 April 2014

Delapan Mutiara Hatim Al A’sham

Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada muridnya, Hatim al-A’sham, “Berapa lama kamu telah belajar kepadaku?” Hatim menjawab: “Sudah selama 33 tahun.” Syaqiq bertanya lagi, “Apa yang kamu pelajari dariku selama itu?” Hatim menjawab, “Ada delapan perkara.” Syaqiq berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku habiskan umurku bersamamu selama itu dan kamu tidak belajar kecuali delapan perkara?!” Hatim menjawab, “Guru, aku tidak belajar selainnya. Sungguh aku tidak bohong.” Syaqiq kemudian berkata lagi, “Coba jelaskan kepadaku apa yang sudah kamu pelajari.”
Murid (Hatim) menjawab:

Pertama, “Ketika aku memperhatikan makhluk yang ada di dunia ini, aku melihat masing-masing mempunyai kekasih, dan ia ingin selalu bersama kekasihnya bahkan hingga ke dalam kuburnya, tetapi ketika dia sudah sampai di kuburnya, kekasihnya justru berpaling darinya. Ia pun merasa kecewa karena kekasihnya tidak lagi dapat bersama masuk ke dalam kuburnya dan berpisah dengannya. Karena itu aku ingin menjadikan amal kebaikan yang menjadi kekasihku, sebab jika aku masuk kubur, maka semua amal kebaikan akan ikut bersamaku.”

Kedua, “Saya memperhatikan (merenungkan) firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠)فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (٤١)
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. An-Nazi’at: 40-41)
Maka saya berusaha keras untuk meneguhkan diri dalam menundukkan hawa nafsu, hingga nafsu saya mampu tegar atau tenang (tidak goyah) diatas ketaatan kepada Allah.”

Ketiga, “Saya memperhatikan manusia, dan saya amati masing-masing memiliki sesuatu yang berharga, yang dia menjaganya agar barang tersebut tidak hilang. Kemudian saya membaca firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (Qs. An-Nahl: 96)
Oleh karena itu, apabila setiap aku memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, segera saja aku serahkan kepada Allah, agar milikku terjaga bersama-Nya dan tidak hilang (agar kekal di sisi Allah).”

Keempat, “Saya memperhatikan manusia dan saya ketahui masing-masing mereka membanggakan hartanya, pangkatnya (kedudukannya) dan nasabnya (keturunannya). Kemudian aku memperhatikan firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
Maka aku berbuat dalam koridor takwa (aku kerjakan konsekuensi takwa), hingga menjadikan aku di sisi Allah, sebagai orang yang mulia.”

Kelima, “Saya memperhatikan manusia dan (saya tahu) mereka saling mencela dan mengumpat antara satu dan lainnya. Saya tahu masalah utamanya di sini adalah sifat iri hati (dengki). Maka saya kemudian memperhatikan firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”(Qs. Az-Zukhruf: 32)
Maka saya kemudian meninggalkan sifat iri hati dan menghindar dari banyak orang, karena saya tahu bahwa pembagian rejeki itu benar-benar dari Allah, yang menjadikanku tidak patut memusuhi dan iri kepada orang lain.”

Keenam, “Ketika kupandangi makhluk yang ada di dunia ini, ternyata mereka suka berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain, akupun kembali kepada firman Allah:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu).” (Qs. Fathir: 6)
Maka aku tinggalkan permusuhan diantara manusia, karena itu setan kupandang sebagai musuhku satu-satunya dan akupun sangat berhati-hati kepadanya, karena Allah menyatakan setan adalah musuhku.”

Ketujuh, “Saya memperhatikan manusia, maka saya melihat masing-masing diantara mereka memasrahkan jiwanya dan menghinakan diri mereka sendiri dalam mencari rezeki. Bahkan ada diantara mereka yang berani melihat kepada firman Allah:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya.” (Qs. Hud: 11)
Saya kemudian menyadari bahwa saya adalah salah satu dari makhluk melata, sehingga Allah pasti akan menanggung rezekinya. Maka saya menyibukkan diri dengan apa yang menjadi hak Allah dan saya tinggalkan hak saya atas Allah. (Saya meninggalkan apa-apa yang tidak dibagikan kepadaku).”

Kedelapan, “Saya memperhatikan manusia, maka saya lihat masing-masing dari mereka menyerahkan diri (bertawakkal) kepada sesama makhluk (orang ataupun barang). Ada yang menyandarkan hidupnya kepada sawah ladangnya, sebagian karena perniagaannya, sebagian karena hasil karya produksinya, sebagian lain karena kesehatan badannya dan simpanannya/tabungannya. Maka saya melihat kepada firman Allah:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)-nya.”(Ath-Thalaaq: 3)
Maka saya kemudian menyerahkan diri dan mempercayakan semuanya kepada Allah karena Dia akan mencukupi segala keperluanku.
Mendengar pernyataan-pernyataan Hatim, sang guru yaitu Imam Syaqiq al-Balkhi mendo’akannya, “Semoga Allah memberi berkah kepadamu…!”
***
Ditulis ulang dari buku Jadilah Dokter Muslim Sejati, halaman 247-274, karya Djoko Kuswanto, penerbit Wafa Press
Muslimah.Or.Id

Wednesday, 29 January 2014

Tertutupnya Pintu Taufiq

Syaqiq bin Ibrahim berkata: "pintu taufiq tertutup bagi manusia dalam enam perkara:

  1. Sibuk dengan nikmat daripada mensyukurinya, 
  2. Senang mencari ilmu, tetapi tidak mengamalkannya,
  3. Cepat melakukan dosa, namun lambat dalam bertaubat, 
  4. Terpedaya, yaitu bergaul dengan orang-orang shalih namun tidak mau meniru perbuatan mereka, 
  5. Terus mengejar dunia ketika sesuatu yang fana ini berlari membelakanginya, 
  6. Berpaling dari akhirat justu pada saat sesuatu yang abadi ini mendatanginya."

قال شقيق بن إبراهيم اغلق باب التوفيق عن الخلق من ستة أشياء اشتغالهم بالنعمة عن شكرها ورغبتهم في العلم وتركهم العمل والمسارعة إلى الذنب وتأخير التوبة والاغترار بصحبة الصالحين وترك الإقتداء بفعالهم وادبار الدنيا عنهم وهم يتبعونها وإقبال الآخرة عليهم وهم معرضون عنها


 Al-Fawa’id (177/1), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah


taken from :  a learning page

Thursday, 10 February 2011

Delapan hal Yang Aku Pelajari dari Syaqiq

oleh: Ahmad bin Abdur Rahman bin Qudamah al-Maqdisi

Diriwayatkan bahwa Shaqiq (Ibnu Ibrahim) al-Balkhi berkata kepada Hatim (al-Assam – muridnya):
Kamu telah bersamaku untuk waktu yang lama, apa yang sudah kamu pelajari?”
Hatim menjawab:
Delapan perkara:
Pertama. Aku melihat pada mahluk dan menemukan bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang sangat dicintainya, tetapi ketika orang tersebut sampai ke kuburnya, kecintaannya akan berpisah darinya. Maka aku menjadikan sesuatu yang paling kucintai adalah amal baikku. sehingga mereka akan menyertaiku di dalam kubur.
Kedua: Aku melihat pada firman Allah Ta’ala:



ونهى النفس عن الهوى

...dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,” (QS An-Nazi’at : 40)



Maka aku berusaha sungguh-sungguh menahan diriku, menolak hawa nafsu sampai diriku tetap dalam ketaatan kepada Allah
Ketiga: Aku melihat, setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga di sisinya akan menjaganya, kemudian aku melihat pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


ما عندكم ينفد وما عند الله باق

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS An-Nahl : 96)



Maka kapanpun sesuatu yang berharga berada bersamaku, aku menggunakannya untuk Allah, sehingga ia akan tetap bagiku di sisi-Nya.
Keempat: Aku melihat manusia kembali kepada harta, keturunan, dan kedudukan, dan semuanya tidak berharga, maka aku memperhatikan firman Allah Ta’ala:



إن أكرمكم عند الله اتقاكم

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS Al-Hujarat : 13)
Maka aku berusaha untuk mengerjakan ketakwaan sehingga aku dapat menjadi mulia di sisi Allah.

Kelima: Aku melihat manusia dengki satu sama lain, maka aku memperhatikan firman Allah Ta’ala:


نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ

Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” (QS Az-Zukhruf : 32)
Maka aku pun meninggalkan hasad.


Keenam: Aku melihat mereka mengambil musuh satu sama lain, lalu aku melihat firman Allah:


إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu),” (QS Fathir : 6)
Maka aku meninggalkan musuh-musuh mereka dan hanya mengambil syaithan sebagai musuhku.



Ketujuh: Aku melihat mereka menghinakan diri mereka dalam mencari rezeki, maka aku memperhatikan firman Allah Ta’ala


وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,” (QS Hud : 6)
Maka aku berkonsentrasi pada apa yang dikehendaki-Nya bagiku dan meninggalkan apa yang tidak dikehendaki-Nya bagiku.




Kedelapan: Aku melihat mereka tergantung pada perdagangan, pekerjaan dan kesehatan mereka, maka aku bergantung kepada Allah.


Sumber: Mukhtasar Minhajul Qasidin hal 28. (SubulAsSalaam.Com)

http://www.khayla.net/
**Artikel: Ummu Zakaria