Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Saturday, 1 November 2014

Obat Bagi Penderita Kasmaran


Ketahuilah Saudaraku, bahwasanya ada suatu penyakit yang apabila tidak diobati dapat merusak iman dan akal sehat penderitanya. Penyakit yang biasanya menimpa kawula muda ini bernama kasmaran.
Mengapa kasmaran dinamakan penyakit yang berbahaya dan harus diobati? Hal ini dikarenakan si penderita lebih sibuk mencintai dan mengingat makhluk sehingga lalai mencintai serta mengingat Allah. Si penderita juga akan merasakan tersiksanya hati karena makhluk yang dicintai. Siapa saja yang mencintai sesuatu selain Allah pasti akan tersiksa karenanya. Hidup orang yang kasmaran seperti halnya tawanan yang terikat. Sebaliknya, hidup orang yang terbebas pikirannya dari mabuk cinta adalah lepas dan merdeka. Seperti dikatakan penya’ir:
    Ia bebas dalam pandangan mata, padahal sebenarnya tawanan
    Yang sakit dan mengelilingi pusat kebinasaan
    Ia adalah mayat yang terlihat hidup dan berjalan
    Yang tidak akan bangkit meski tiba hari Kebangkitan
    Hatinya hilang dalam gemuruh kesengsaraan
    Yang tidak tersadarkan hingga kematian menjemput
Jika kasmaran kuat dan kokoh di hati penderita, niscaya ia akan merusak pikiran dan lalai dari kemaslahatan agama dan dunianya. Semakin hati itu dekat dengan cinta semu, ia pun akan semakin menjauh dari Allah sehingga syaiton pun mudah menguasai dirinya.
Dengan demikian, penyakit kasmaran perlu untuk diobati. Rasulullah bersabda,

لكل داءٍ دواءٌ، فإذا أُصِيبَ دواءُ الداء، بَرَأَ بإذن الله عزَّ وجل

Artinya: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah.” (HR.Muslim)

Berikut beberapa trik mengatasi kasmaran:

Langkah pertama, Obat penyakit yang fatal ini dimulai dari kesadaran penderita bahwa cobaan yang menimpanya merupakan lawan dari tauhid. Hal ini terjadi karena kebodohan dan kelalaian hatinya kepada Allah. Oleh sebab itu, wajib baginya mengetahui hakikat tauhid kepada Allah, sunnah-sunnahNya, dan ayat-ayatNya.

Selanjutnya, dia harus melaksanakan seluruh ibadah baik lahir maupun batin supaya hatinya sibuk sehingga tidak berpikir tentang kasmarannya. Ia juga harus memperbanyak ketundukan hati dan bersandar kepadaNya untuk memalingkan perasaan cinta tersebut dengan mengembalikan hatinya kepada Allah. Tidak ada obat yang lebih bermanfaat daripada ikhlas kepada Allah. Inilah obat yang disebutkan dalam kitabNya sebagaimana firman-Nya :

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: “… Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS Yusuf: 24)

Hendaklah si penderita kasmaran berusaha dengan gigih untuk mengobati penyakit kasmarannya, karena kasmaran hanya manis pada awalnya tetapi pada pertengahannya menyebabkan kesulitan, kesibukan hati, bahkan penyakit jiwa lalu akhirnya adalah ‘kebinasaan dan pembunuhan’. Na’udzubillah.

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita agar kita senantiasa melakukan amalan ketaatan dan meninggalkan amalan yang sia-sia.
—-
Penyusun: Dwi Pertiwi
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi : “Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’”. Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah
Artikel www.muslimah.or.id

Thursday, 30 October 2014

Suatu Waktu Nanti...


Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.
Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong-kosong soal sakitnya patah hati.
Yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.
Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tetapi juga dengan segalanya.
Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggung-jawabkannya.
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.
Tetapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.

Suatu waktu nanti akan ada seseorang yang datang.
Dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan.
Yang akan kalian jadikan prioritas.
Bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tetapi kalian bohongi di kehidupan nyata.

Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang.
Yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya.
Yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang..
Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu..
Tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati...

Source: Chynatic

Saturday, 11 October 2014

Tentang Cinta


Cinta yang terpuji adalah cinta yang bermanfa’at.
Cinta tersebut akan menarik hal-hal yang bermanfa’at bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat.
Cinta semacam ini merupakan inti kebahagiaan.
Sebaliknya, cinta yang tercela adalah cinta yang menarik hal-hal yang membahayakan pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus merupakan inti kesengsaraan.


[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad Daa’ wa Ad Dawaa’ halaman 474 ]

Friday, 26 September 2014

Nasihat yang Sangat Berharga dari Seorang Ibu kepada Putrinya


Risalah ini dipersembahkan untuk setiap istri atau suami yang mengidam-idamkan datangnya bahtera kebahagiaan didalam rumah tangganya. Untuk istri yang mencintai suami, anak dan keluarganya diatas mahabbatullah. Untuk setiap pasangan yang mengharapkan terciptanya surga di rumah tangganya. Untuk setiap istri yang mengharapkan kebahagiaan berkibar dalam rumah tangganya, dan untuk setiap istri shalihah yang hendak mencari obat yang manjur untuk menyelesaikan setiap problema rumah tangganya.
Simaklah sebuah nasihat yang sangat berharga dari seorang ibu kepada gadisnya berikut ini.

Berkata Umamah binti Harith, seorang wanita Arab kepada anak gadisnya, ketika buah hatinya dan penyejuk pandangannya dipinang oleh Raja Kinda, ia mengatakan, yaitu Umamah binti Harith mengatakan kepada gadisnya ketika dipinang oleh raja Kinda (Raja Arab pada masa itu), dia mengatakan:

“Wahai putriku, sebentar lagi engkau tidak akan lagi menghirup udara yang selama ini dengannya engkau hidup, sebentar lagi engkau akan keluar dari sangkarmu yang selama ini engkau tumbuh besar. Jika seandainya wahai putriku seorang wanita tidak membutuhkan pria karena kekayaan yang dimiliki ayahnya dan sebab begitu cintanya mereka kepadanya, niscaya engkaulah wanita yang tidak memerlukan pria tersebut. Akan tetapi wanita telah di taqdirkan untuk laki-laki dan laki-laki telah ditaqdirkan untuk wanita.

Putriku, engkau akan meninggalkan rumah yang telah membesarkanmu selama ini menuju ke suatu tempat, engkau tidak pernah mengenalnya sama sekali, hidup bersama orang yang belum terbiasa engkau dengannya, maka jadilah engkau di kerajaannya sebagai pelayan baginya niscaya ia akan menjadi budak bagimu.

Ambillah dari ibu dan hafalkanlah 10 perkara, mudah-mudahan hal itu akan menjadi bekal bagimu dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Pertama dan kedua,  hendaklah engkau bergaul dengannya selalu bertemankan qana’ah dan ridha, serta mendengar dan mematuhi segala ucapan dan perbuatannya.

Ketiga dan keempat, selalulah menjaga tempat-tempat yang biasa dia pandang dan yang biasa ia cium dengan penciumannya, jangan sampai matanya jatuh ketempat yang kotor dan penciumannya mencium sesuatu yang tidak berkenan olehnya. Ketahuilah bahwa celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik pembersih.

Kelima dan keenam, menjaga waktu makan dan tidurnya. Karena lapar mendatangkan emosi –karena suami yang lapar akan membuatnya mudah emosi dan marah- dan kurang tidur membuat pikiran tidak stabil dan kacau.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga harta dan keluarganya. Inti dari menjaga harta adalah berhemat dan inti dari menjaga keluarga adalah pintar mengasuh dan pandai mendidik.

Adapun yang kesembilan dan yang kesepuluh, maka janganlah melanggar perintahnya dan jangan sekali-kali menebarkan rahasianya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau telah mengeruhkan pikirannya dan jika engkau tebar rahasianya maka engkau tidak akan selamat dari makar dan tipu muslihatnya. Kemudian wahai putriku, jangan sekali-kali engkau menampakkan wajah ceria tatkala ia berduka atau engkau menampakkan wajah duka tatkala ia berbahagia.

Wahai gadisku, wahai putriku, wahai anakku, engkau akan mengarungi sebuah kehidupan yang baru, kehidupan yang tidak ada tempat untuk ayah dan ibumu serta saudara-saudaramu. Engkau akan bergaul dengan seorang laki-laki yang ia tidak menginginkan engkau bergaul kecuali dengannya, sekalipun mereka dari darah dan dagingmu.

Jadilah engkau baginya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu, biarkan ia merasa bahwa engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya. Ingatlah selalu, bahwa setiap laki-laki siapapun ia, ia adalah bayi besar, akan diam dan tertawa kembali dengan sedikit ucapan manis darimu.

Dan jangan sekali-kali engkau merasa bahwa perkawinanmu dengannya menjadi penghalang antaramu dan keluarga, karena perasaan ini juga ia rasakan sebagaimana juga ia telah meninggalkan rumah orang tua dan kerabatnya hanya karenamu. Hanya wahai putriku perbedaanmu dengannya seperti perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan antaramu dengannya hanya perbedaan antara laki-laki dengan perempuan.

Seorang wanita selalu merindukan keluarganya, seorang wanita selalu terkenang dengan kampung halamannya dimana ia tumbuh besar. Akan tetapi haruslah bagimu membiasakan diri dengan kehidupan barumu ini, haruslah engkau dapat beradaptasi dengannya yang sekarang telah menjadi suamimu, pemimpin keluarga dan ayah dari anak-anakmu. Inilah dunia barumu wahai putriku dan inilah masa depanmu. Inilah rumah tangga yang akan kalian bangun. Adapun kedua orang tuamu maka mereka akan berlalu.

Sayangku, ibu tidak akan meminta kepadamu agar engkau melupakan ibu, agar engkau melupakan ayah dan saudara-saudaramu karena mereka tidak akan pernah bisa melupakanmu selama-lamanya. Bagaimana mungkin seorang ibu akan melupakan belahan hatinya. Akan tetapi yang ibu pinta kepadamu agar engkau mencintai suamimu dan hidup bersamanya dan engkau berbahagia dengan kehidupanmu bersamanya.”

~ Dikutip dari kajian “Anakku, Ia Surga atau Nerakamu” - Ustadz Armen rahimahullaahu ta'ala ~

***

Download Mp3 kajian selengkapnya via kajian.net pada link berikut:

Tuesday, 23 September 2014

Cara Mengetahui Kadar Cintamu


Jika engkau ingin mengetahui kadar cintamu - juga kadar cinta selainmu - kepada Allah, maka lihatlah kadar kecintaanmu terhadap Al-Qur'an dalam hatimu. Kelezatanmu dengan mendengar firman-Nya seharusnya jauh lebih besar daripada kelezatan yang dirasakan orang-orang yang mencintai musik dan nyanyian. Termasuk perkara yang umum diketahui bahwa siapa yang mencintai seseorang pasti mencintai ucapan dan perkataannya pula, sebagaimana dikatakan oleh penya'ir:


Jika kau menyatakan cinta kepada-Ku,lalu mengapa kau jauhi Kitab-Ku?
Tidakkah kau perhatikan apa yang ada di dalamnya,yang merupakan kelezatan seruank-Ku.

'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu 'anhu berkata; "Sekiranya hati kita bersih, tentu tidak akan pernah kenyang dengan firman Allah."

[ Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' halaman 546-547 ]

Tuesday, 16 September 2014

Derita Kasmaran


Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta,
Meskipun ia merasakan manisnya cinta.
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu,
Karena takut berpisah atau karena rindu.

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih,
Namun, bila kekasihnya dekat,
Ia menangis karena takut berpisah.

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan,
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba.

Pelakunya memang merasakan kenikmatan,
Namun, sebenarnya...
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati.

- Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' hal. 496

Tuesday, 10 August 2010

ARTI SEBUAH CINTA !


Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: C.I.N.T.A
Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Demikianlah bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi pembolehan terhadap segala yang dilarang Allah dan Rasul-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)
Dalam haditsnya dari shahabat Tsauban, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasaalam bersabda: “Hampir-hampir orang-orang kafir mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’ Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah jumlah kita saat itu sangat sedikit?’ Rasulullah berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi kalian bagaikan buih di atas air. Dan Allah benar-benar akan mencabut rasa ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Allah akan campakkan ke dalam hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud dengan al-wahn wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab : ‘Cinta dunia dan takut mati.’ (HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat.”

Definisi Cinta

Untuk mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim mengatakan: “Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri.” (Madarijus Salikin, 3/9)

Hakikat Cinta

Cinta adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah yaitu kesyirikan.

Cinta kepada Allah
Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:
“Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Mereka (sebagian salaf) berkata: “(firman Allah) ‘Niscaya Allah akan mencintai kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, faidah dan buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaii wassalam maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan hilang.”
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah. bersabda Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik :
“Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:

1. Membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.

2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.

3. Terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.

4. Mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu.

5. Hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.

6. Menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.

7. Tunduknya hati di hadapan Allah

8. Berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).

9. Duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.

10. Menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)I
Cinta adalah Ibadah
Sebagaimana telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah Subhanahu wa taala berfirman:
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)

adalah hadits Anas yang telahrAdapun dalil dari hadits Rasulullah disebut di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.”
Macam-macam cinta
Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:

1. Cinta ibadah.

Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.

2. Cinta syirik.

Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 “Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

3. Cinta maksiat.

Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:
“Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)

4. Cinta tabiat.

Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang Idibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:
“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf ‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita.” (Yusuf ; 8 )

Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” (Majmu’ Fatawa, 1/95)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di menyatakan ” Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)

Bila kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Allah? Maka kita tidak boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan tetapi jawabannya perlu dirinci.

1. Bila dia mencintai selain Allah lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Allah maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.


2. Bila dengan cinta kepada selain Allah menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.


3. Bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.


Wallahu a’lam.

(Dikutip dari: http://www.asysyariah.com, Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi, judul: Arti Sebuah Cinta ! http://humairoh.inef.web.id/