Showing posts with label VARIOUS. Show all posts
Showing posts with label VARIOUS. Show all posts

Friday, 1 February 2013

Kemana Diri Kan Lari ? T_T

Bismillaah ...


Ketika kaki dilangkahkan, ayunan tapak tanpa kendali ..
Kepala melihat ke kanan dan ke kiri ..
Jangan kau sangka tidak ada peduli ..

Namun ingatlah selalu, sungguh, Allaah Maha Tahu.
"Dan pada sisi Allaah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
(al An`aam: 59).


Kala tangan menggapai, memegang tidak pada haknya ..
Mata kau kerling, simbahan keringat bertanya ..
Jangan kira dunia milikmu, diperbuat sesukanya ..

Tapi ingatlah seketika, sungguh Allaah Maha Tahu.
"Sesungguhnya Allaah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allaah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(al Hujuraat: 18).


Hari ini senang kau bicara, bebas menyampaikan maksudmu ..
Akal sakit kau turuti, aib makian lalapan selalu ..
Jangan dipikir lidah kan mengaku, untuk membisu ..

Kendati ingatlah sementara, sungguh, Allaah Maha Tahu.
Maka, "Katakanlah: "Cukuplah Allaah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi."
(al Ankabuut: 50).


Mata indah, bersih terang, target larangan kau umbarkan .. 
Meliuk bola gejolak pandang, ke atas-bawah, asri dilemparkan ..
Usah kau kalap dan buta, santapan melek menjadi korban ..

Camkan, ingatlah selamanya, sungguh Allaah Maha Tahu.
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati."
(al Mu'min: 19).


Melihat senang, hatimu sakit, yang lain kaya dirimu menjerit ..
Dendam kesumat masih terbersit, membara beku didada nan sempit .. 
Jangan dikira hidupmu sihat, tapi hati tak terjangkit ..

Namun ingatlah sesungguhnya, Dialah Allaah, yang Maha Tahu segala-galanya.
"Sesungguhnya Rabbmu hanyalah Allaah, yang tidak ada Rabb selain Dia. PengetahuanNya meliputi segala sesuatu."
(Thaa Haa: 98).


Untuk setiap langkah yang terayunkan, Allaah Tahu ..
Untuk setiap coretan pena yang tertuliskan, Allaah Tahu ..
Untuk setiap kata yang terucapkan, Allaah Tahu ..
Untuk setiap angan dalam pikiran, Allaah Tahu ..


Untuk setiap prasangka yang menyapa benak, Allaah Tahu ..
Untuk setiap pandang mata yang berkhianat, Allaah Tahu ..
Untuk setiap bisikan hati yang tidak diketahui, Allaah Tahu ..
Untuk setiap penyakit hati, iri, dendam dan dengki, Allaah Tahu ..


Untuk setiap ingin hati agar dipuji, Allaah Tahu ..
Untuk setiap doa yang dilantunkan dalam sujud panjang, Allaah Tahu…
Untuk setiap tangis di hening malam, Allaah Tahu…
Untuk setiap istighfar atas segala dosa, Allaah Tahu…


Mungkin kita telah lupa atau pura-pura menjadi lupa ..
Namun ingatlah bahwa Allaah tidak pernah lupa.


Ketika kita mengetahui ada yang memerhati ..
Duhai .. kemanakah kiranya diri kan lari ..
Tiada tempat yang aman untuk aib bersembunyi ..
Sungguh Dia lah tempat segalanya kembali!



Allaahu a'lam. 

























Ku Pelajari

Bismillaah ...

Sungguh, telah aku pelajari ..

Bahwasanya, kita tidak mampu membuat manusia menyukai diri,
Namun yang bisa kita lakukan adalah menjadi manusia yang bisa disukai,

Selanjutnya, terserah manusia itu sendiri.

Aku telah pelajari ..

Tidak kira seberapa besar kita peduli,
Sebagian bahkan tidak akan kembali peduli.

Aku juga pelajari ..

Menghabiskan waktu bertahun untuk membangun kepercayaan,
Namun memakan waktu sesa'at untuk dihancurkan.

Telahku pelajari ..

Seberapa baik sifat seorang teman,
Namun terkadang mereka berbalik menyakitkan,

Dan ma'afkanlah mereka, sebaik-baik balasan.

Aku kini pelajari ..

Bukanlah hitungan apa yang kita miliki dalam kehidupan,
Kendati, siapa yang kita miliki menjadi hitungan.

Aku dapat pelajari ..

Jangan hancurkan sebuah pema'afan dengan sebuah alasan.

Masihku pelajari ..

Memakan waktu lama nan panjang untuk menjadi apa yang akan kita jadi.

Sekarangku pelajari ..

Kita harus bertanggungjawab atas setiap perbuatan,
Meski tidak kira bagaimana suka dan duka kita rasakan.

Kemudianku pelajari ..

Samada kita kawal perasaan kita atau ia yang akan mengawalinya.

Dan diriku pelajari ..

Aku dan Sahabat bisa lakukan berbagai perkara,
Atau bahkan tidak melakukan apa-apa,

Namun bisa menghabiskan waktu terbaik bersama.

Akhirnya aku pelajari ..

Orang akan lupa apa yang telah kita katakan,
Mereka juga lupa apa yang kita lakukan,
Namun insan tidak akan lupa bagaimana kita membuat mereka rasa dalam perasaan.

Marilah kita pelajari ..

Bahwasanya anak-anak Adam bisa melihat pada satu perkara yang sama,
Namun mereka bisa memandang hal yang sama dalam sisi pandangan yang berbeda pula ..

Kembangkanlah wawasan sesuai batasan kemampuan.

Allaahu a'lam.

Thursday, 10 February 2011

Mereka Berkata tentang Cinta

Anas radhiallahu anhu berkata, "Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,

ما تحابا الرجلان إلا كان أفضلهما أشدهما حبا لصاحبه
'Dua orang saling mencintai (karena Allah) maka yang paling baik di antara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya."'



[Shahih, di dalam kitab Ash-Shahihah (450). [lihat kitab Shahih Adabul Mufrad]



Dari Ubaid al-Kindi berkata:

سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُوْلُ لاِبْنِ الْكَوَّاءِ هَلْ تَدْرِي مَا قَالَ اْلأَوَّلُ ؟ أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمَا مَا

“Aku mendengar Ali berkata kepada Ibnul Kawwa, “Apakah engkau tahu apa yang dikatakan pertama?” “Cintailah orang yang engkau cintai dengan sewajarnya, karena mungkin ia akan menjadi orang yang engkau benci suatu hari nanti. Bencilah orang yang engkau benci dengan sewajarnya, mungkin ia akan menjadi kecintaanmu suatu hari nanti.”



[Hasan lighairihi, diriwayatkan dengan riwayat yang mauquf, telah di shahihkan dengan riwayat marfu' di dalam kitab Ghaayatul-Maram (272), (LIhat Shahih Adabul Mufrad Imam Bukhari) oleh Syaikh Albani)]



Dari Aslam, dari Umar bin Khaththab radhiallahu anhu berkata:
لاَ يَكُنْ حُبُّكَ كَلَفًا وَلاَ بَغُضُكَ تَلَفًا فَقُلْتُ كَيْفَ ذَاكَ ؟ قَالَ إِذَا أَحْبَبْتَ كَلِفْتَ كَلَفَ الصَّبِيِّ وَإِذَا أَبْغَضْتَ أَحْبَبْتَ لِصَاحِبِكَ التَّلَف



“Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menjadikan kehancuran bagimu. Aku berkata, “Bagaimanakah itu?” Ia berkata, “Bila engkau mencintainya, maka engkau mencitainya sampai engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya.”



Shahih sanadnya (Lihat Shahih Adabul Mufad Imam Bukhari oleh Syaikh Albani)



Mu’adz bin Jabal radhiallahu anhu berkata:
إذا أحببت أخا فلا تماره ولا تشاره ولا تسأل عنه فعسى أن توافى له عدوا فيخبرك بما ليس فيه فيفرق بينك وبينه
"Apabila engkau mencintai seseorang, maka janganlah engkau berdebat dengan dia. Janganlah engkau membicarakannya, janganlah engkau bertanya tentang dia, karena barangkali engkau bertemu dengan musuhnya lalu dia memberitahukanmu tentang sesuatu yang tidak terdapat pada dia sehingga menyebabkan perpecahan antara dia denganmu."

Shahih, sanadnya yang mauquf dan hadits tersebut diriwayatkan dengan periwayatan yang marfu' di dalam kitab Adh-Dha'ifah (1420).

http://www.khayla.net/
**Artikel: Ummu Zakaria

Potret Salaf dalam Berbakti kepada Orang Tua

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku ?” Ibnu Umar menjawab, Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menajawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari shahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah ! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kala jengking tersebut. Beliaupun tersengat kala jengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “ Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirrin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari sifatush shafwah).

Hafshah binti Sirrin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirrin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirrin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirrin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’ karya ad-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirrin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para shahabat Muhammad bin Sirrin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal ? Para shahabat Muhammad bin Sirrin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’ karya ad-Dzahabi)

Humaid mengatakan tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis ?” Beliau menjawab, Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya engkau Uwais bin Amir? “Betul.” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn? “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham? “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu. Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehinngga tidak dikenal itu lebih ku sukai. (HR Muslim)


Sumber: Ustadz Aris [dot] Com

**Artikel: Ummu Zakaria