Showing posts with label THALIBUL ILMY. Show all posts
Showing posts with label THALIBUL ILMY. Show all posts

Sunday, 13 March 2011

Indahnya Akhlaqul Karimah

Para pembaca yang kami hormatbila kita mau menggali kembali warisan akhlak yang mulia sebagaimana yang telah diwariskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullahniscaya kita akan mendapati betapa indahnya Islam itu.Sungguh menyedihkantatkala menyaksikan banyak dari saudara-saudara kita kaum muslimin kurang memberikan perhatian terhadap masalah akhlak.Terlebih ketika menyaksikan generasi muda Islam yang mayoritas mereka tumbuh dan berkembang tidak di atas bimbingan akhlak yang mulia.

Seyogyanyapendidikan akhlak kepada generasi muda dimulai semenjak mereka berada dalam masa kanak-kanakbaik dalam lingkungan keluarga maupun dalam sebuah lembaga pendidikanWalaupunpada akhirnya itu semua kembali kepada hidayah dari Allah ‘azza wa jalla. Namun setidaknyatelah ada upaya dengan penuh kesungguhan dari diri kita yang diiringi dengan doa kepada Allah ‘azza wa jalla. Semoga anak cucu kita menjadi generasi yang berakhlak dengan akhlak yang mulia.


Dalam hal inisosok yang sangat pantas untuk kita jadikan sebagai teladan adalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah mengaplikasikan sifat-sifat yang mulia semenjak masa kanak-kanakSehingga tidaklah mengherankan ketika di kemudian hari beliau menjadi orang kepercayaan di kalangan kaumnya sebelum diangkat menjadi nabi dan menerima banyak pujian dari mereka.
Allah ‘azza wa jalla telah memberikan pujian kepada beliau dalam firman-Nya (artinya):
Dan sesungguhnya kamu Muhammad  benar-benar berbudi pekerti yang agung.” QSAl-Qalam 4

Sungguh telah terkumpul pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamakhlak-akhlak yang baik seperti rasa malukedermawanankeberanian,menepati janjisuka menolongkecerdasanlembutmemuliakan anak yatim,kejujuranmenjaga harga dirimenjaga kesucian hatidan lain-lain.
‘Aisyah radhilyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah ditanya tentang akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia menjawab:
“Maka sesungguhnya akhlak Nabi Allah Muhammad  adalah Al-Qur‘an.” HR.Muslim dan Abu Dawud
Allah ‘azza wa jalla berfirman  (artinya):
Sesungguhnya telah ada pada diri  Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu  bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan  hari kiamat dan Dia banyak menyebut AllahQSAl-Ahzab 21

Sahabat Anas bin Malik radhilyallahu ‘anhu mengatakan
“Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” HRAl-Bukhari,Muslim dan Abu Dawud
Di tengah-tengah gencarnya dakwah tauhid yang diserukan oleh RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tetap memberikan porsi kepada pembenahan akhlakHal ini tercermin dari sabda beliau
“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” HRAl-Baihaqi dan Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad

Keutamaan Akhlak yang Mulia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menerangkan tentang keutamaan akhlak yang muliabeliau bersabda
“Tidak ada sesuatu yang diletakkan dalam timbangan di hari kiamat kelak  yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya seorang yang berakhlak baik akan bisa mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat (sunnah).” HRAt-Tirmidzi
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” HRAt-Tirmidzi

Urgensi Akhlak yang Baik dalam Dakwah

Akhlak yang mulia merupakan bekal berharga yang tidak boleh dianggap remeh oleh seorang da’i  juru dakwah yang terjun ke masyarakat dalam rangka mengemban tugas yang agung nan mulia yaitu berdakwah ke jalan AllahAkhlak yang mulia akan memberikan pengaruh yang luar biasa di hati-hati manusia.
Para pembaca yang berbahagia! Amalan dakwah ke jalan Allah merupakan amalan yang cukup beratyang membutuhkan perjuangan fisik dan mental dari seorang da’iYang demikian itu memang sebanding dengan pahala dan keutamaannya yang besarOleh karena itulahyang mampu mengemban tugas berat ini hanyalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat agung dan mulia dalam kehidupannyaBukan orang-orang yang kasar perangainyakotor dan tajam lisannyasempit pandangannyajelek pergaulannyadan yang memiliki sifat-sifat tercela lainnya.

Seorang da’iapabila telah mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan bekal akhlak yang mulianiscaya dakwah ke jalan Allah yang ia serukan akan berguna dan memberikan manfaat serta akan lebih mudah untuk diterima di hati masyarakat.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan dalam ceramahnya ketika memberikan nasehat kepada para pemuda tentang masalah Kebangkitan Islam bahwasanya dakwah Islam akan bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan apabila para pemikul amanah tersebut memiliki beberapa bekalBeliau menyebutkan beberapa bekal yang berkaitan dengan akhlakdi antaranya adalah:

1. Seorang da’i wajib memiliki sifat hikmah dalam berdakwahHendaklah ia tidak terburu-buru untuk menikmati hasil dalam usahanya merubah keadaan masyarakat yang jelek menjadi baikKemudian kata beliau   …Dan sungguh -demi Allah- saya sangat senang sekali melihat kecemburuan para pemuda dan semangatnya dalam membasmi kemungkaranmenegakkan kebenaran serta memerintahkan kepada kebaikanNamun aku lebih suka -demi Allah- dengan sepenuh hatikuapabila mereka melandasi langkah-langkah tersebut dengan cara hikmahWalaupun hasilnya agak lambat namun akan membawa akibat yang terpuji…
Kemudian beliau menyebutkan dalilnyayaitu firman Allah  (artinya):
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QSAn-Nahl 125

2. Memiliki sifat sabar dengan mengharap pahala dari AllahBetapa banyak para generasi muda yang setelah mendapat hidayah untuk berjalan di atas jalan generasi salaf yang shalihmereka bersemangat mengajak keluarganya kepada jalan tersebutNamun kemudian datang berbagai keluhan dari mereka,bahwasanya mereka mendapatkan tekanan dari kedua orangtuanya baik dalam bentuk celaanejekan atau fitnah.
Maka wajib bagi kita untuk bersabar  (dari cobaan tersebut) dengan mengharap pahala dari Allah dan tidak boleh putus asaDan jangan menjadikan hal itu sebagai penghalang dari dakwah ke jalan AllahAllah telah berfirman (artinya):“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu  dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” QSAli Imran 200

3. Berhias dengan akhlak yang muliaSeorang da’i harus mencerminkan diri dalam kehidupannya sesuai dengan apa yang ia serukanBagaimana pandangan masyarakat terhadap seorang da’i yang memberikan nasehat kepada umatnya untuk beramal sesuatunamun ia sendiri tidak mengamalkannya?  Demikiankah ?

4. Melandasi dakwahnya dengan kelemahlembutanTidak kasar atau selalu keras dalam cara penyampaianTidak tajam atau kotor dalam berbicara.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnyaAllah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada kekasaran dan yang lainnya”.HRMuslim

5. Menghidupkan sunnah ziarah saling mengunjungi saudara sesama muslim.Sunnah ini telah diabaikan oleh kebanyakan kaum musliminSesungguhnya sunnah ini akan menumbuhkan kelembutan hati dan kecintaan kepada sesama muslimDan seorang da’i memiliki peran besar dalam mengamalkan sunnah ini.

6. Tidak boleh berputus asa tatkala melihat berbagai kerusakan di tengah masyarakat.
Cita-cita atau harapan merupakan pendorong yang kuat dan usaha demi keberhasilan dakwahSebagaimana putus asa merupakan sebab kegagalan dan berhentinya sebuah dakwah.

Pengaruh Akhlak yang Mulia

Berikut ini adalah contoh-contoh kisah tentang bagaimana akhlak yang mulia mampu memberikan pengaruh yang luar biasa dalam hati manusia sekalipun mereka adalah orang kafir.

1. Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan kaum musyrikin Quraisy di bukit Shafaa dalam rangka menjelaskan tentang risalah IslamBeliau mengatakan kepada mereka:
“Bagaimana menurut kalian apabila aku kabarkan kepada kalian bahwasanya akan keluar kuda dari balik kaki bukit ini, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab: “Kami belum pernah mendapatimu berdusta.” HRAl-Bukhari dan Muslim

2. Sahabat Anas bin Malik menceritakan,
Suatu hari kami para sahabat  sedang duduk-duduk di masjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datanglah seorang arab kampung masuk ke dalam masjid  kemudian kencing di dalamnya. Maka dengan serta merta para sahabat pun menghardiknya. Rasulullah bersabda, Jangan menghardiknya! Biarkan dia hingga tuntas kencingnya! “(Setelah selesai dari kencingnya) Rasulullah memanggil orang tersebut kemudian menasehatinya Sesungguhnya yang namanya masjid, tidak pantas untuk tempat kencing, tidak juga tempat kotoran. Hanya saja masjid itu sebagai tempat untuk berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur‘an. Atau sebagaimana sabda Rasulullah. Kemudian Rasulullah memerintahkan seseorang untuk menyiram kencing orang arab kampung tersebut, maka ia membawa seember air kemudian menyiramkannya ke tempat kencing tersebut. HRMuslim

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwasanya sahabat Abu Hurairah menceritakan,
“(Suatu hari) kami shalat bersama Rasulullah. Kemudian di tengah-tengah shalat A‘rabi itu berdo‘a, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad. Dan jangan engkau rahmati siapapun selain kami berdua.” Setelah selesai salam, Rasulullah bersabda kepada A‘rabi tersebut, Sungguh, engkau telah mempersempit rahmatAllah yang luas.
Dalam riwayat Ahmad dari hadits Abu Hurairah diceritakan   (A‘rabi yang pernah kencing di masjid  itu) mengatakan -setelah dia berilmu-, “Rasulullah ketika itu (peristiwa kencing) menasehatiku. Beliau tidak mencelaku, memarahiku, tidak pula memukulku”.

3. Dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh Abu Sufyan ketika beliau berdagang di negeri Syambeliau dipanggil oleh Heraklius  kaisar Romawi. Dan Heraklius mulai bertanya kepada Abu Sufyan  ketika itu beliau masih kafirtentang sosok RasulullahIa bertanya,”Apakah kalian pernah menuduhnya sebagai pendusta sebelum ia menyampaikan sesuatu  (risalah Islam)?”    Abu Sufyan menjawab,”   Tidak pernah.” Ia bertanya lagi,”Apa yang diperintahkannya kepada kalian?”   Abu Sufyan menjawab,”Dia memerintahkan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak boleh menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapunmemerintahkan untuk meninggalkan ucapan nenek moyangmemerintahkan untuk menegakkan shalatzakatberkata jujur,menjaga harga dirimenyambung tali persaudaraan. . .” HRAl-Bukhari


Referensi:
“Ash Shahwah Al-IslamiyahDhawabith wa Taujihat”, Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin


http://www.assalafy.org/mahad/?p=577#more-577.
Artikel Ummu Zakaria

Saturday, 12 March 2011

Imam yang Empat adalah Satu, Mengapa Kita Berselisih ?

Oleh: Redaksi Majalah Fatawa


Imam, pemimpin panutan, sebenarnya sangatlah banyak. Sejak zaman para sahabat hingga kini jumlahnya tak terhitung dengan jari. Namun adalah suatu kenyataan bahwa imam yang begitu masyhur di kalangan umat, tidak hanya di Indonesia, adalah imam yang empat.
Tersebutlah nama Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad yang sering menjadi rujukan oleh kebanyakan kaum muslimin. Meski banyak yang mengenalnya dan mengaku sebagai orang yang mengikutinya, ternyata tidak banyak yang mengetahui pendapatnya secara valid. Kebanyakan orang memang hanya mendengar dari orang lain atau tulisan orang lain.
Pendapat dan pandangan yang banyak diketahui sebenarnya 'hanyalah' hanafiyyah,malikiyyahsyafi'iyyah, ataupun hanbaliyyah, dalam artian berbagai hal yang dinisbahkan (disandarkan) kepada masing-masing empat imam tersebut. Secara mendasar bisa jadi justru tidak sesuai dengan pendapat dan tulisan para imam yang empat tersebut seperti yang terdapat dalam kitab-kitab karyanya. Karena kebanyakan hanya berasal dari turunan dari tulisan orang-orang yang menisbahkan diri pada madzhab (pandangan) empat yang tidak jarang diwarnai ketidak-tahuan atau bahkan fanatik terhadap madzhab yang empat.
Dalam akidah, misalnya, imam yang empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad ibnu Hanbal adalah satu yaitu akidah sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Akidah mereka tidak berbeda dengan akidah para sahabat dan golongan yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik.
Alhamdulillah, diantara mereka tidak terdapat perbedaan dan perselisihan dalam ushuluddinatau asas-asas agama. Malahan mereka semua sepakat dan seia sekata tentang iman terhadap sifat-sifat Allah, al-Qur'an adalah Kalam dan bukan makhluk, iman mestilah bersesuaian antara ucapan lisan dan keyakinan hati. Mereka pun juga sepakat dalam mengingkari golongan ahli kalam seperti Jahmiyah dan yang semisalnya, yang mana kelompok ini sudah terpengaruh oleh kerancuan filsafat Yunani dan madzhab-madzhabkalamiyah.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata; “…namun berkat rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya bahwa para imam yang menjadi panutan umat seperti halnya 'imam yang empat', dan lain-lain, semua mengingkari ahli kalam seperti Jahmiyah; tentang keyakinan mereka terhadap al-Qur'an, iman, dan sifat-sifat Allah. Para imam tersebut mempunyai satu pendirian dan keyakinan sebagaimana pendirian dan keyakinan as-Salafush-Shalih1 bahwa Allah 'Azza wa Jalla dapat dilihat di akhirat, dan al-Qur'an adalah Kalamullah bukan makhluk, sementara itu iman mestilah merupakan gabungan dari ucapan lisan dan keyakinan hati….2
Pandangan ini menjadi pilihan al-'Allamah Shiddiq Hasan Khan bin Ali al-Hushaini al-Qanuji al-Bukhari, katanya; “Madzhab kami adalah sebagaimana madzhab salaf, yaitu itsbat tanpa tasybih, tanzih tanpa ta'thil. Inilah madzhab para imam yang utama bagi umat Islam seperti Malik, Syafi'i, ats-Tsauri, Ibnu al-Mubarak, dan Imam Ahmad. Diantara mereka sedikitpun tidak ada perbedaan dan perselisihan dalam masalah ushuluddin. Demikian juga halnya dengan Imam Abu Hanifah rahimahullah, i'tiqad yang tsabit dari Beliau ialah sebagaimana i'tiqad para imam yang lain yaitu sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.3
Dalam beberapa edisi ke depan akan kami sajikan nukilan kata-kata para 'imam yang empat,' yang menjadi ikutan banyak umat Islam yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal tentang apa yang mereka yakini dalam masalahushuluddin serta penjelasan tentang sikap mereka masing-masing terhadap ilmu kalam.
Berdasarkan penjelasan diatas jelaslah bahwa akidah Imam 'imam yang empat' adalah (satu) selain Imam Abu Hanifah dalam masalah Iman. Namun demikian kita dipahamkan bahwa Imam Abu Hanifah telah rujuk (kembali) daripada pandangannya dan mengikuti pandangan jumhur dalam hal tersebut.
Akidah seperti inilah yang semestinya diikuti oleh semua umat Islam sehingga mereka terhindar dari berbagai perselisihan dan perpecahan, karena memang akidah ini disandarkan pengambilannya dari al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh sedikit manusia yang mengetahui dan memahami akidah para 'imam yang empat' ini dengan pemahaman yang sebenarnya. Malahan sebaliknya berita yang meluas tersebar di kalangan masyarakat umum ialah konon para 'imam yang empat' itu termasuk golongan Mufawwidhun4(golongan yang menyerahkan segala makna sifat-sifat Allah kepada Allah semata-mata, karena kata tersebut tidak diketahui maknanya kecuali oleh Allah sehingga tidak bisa dimaknai berdasar keumuman bahasa Arab). Dengan begitu mereka dianggap tidak mengetahui nash-nash al-Qur'an kecuali sekadar membacanya saja, seolah-olah Allah tidak menurunkan wahyu kecuali sekadar sia-sia belaka.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
Artinya; “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad [38] : 29)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
Artinya; “Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ruhul-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. asy-Syu'ara [26] : 192–195)
Ada juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang lain lagi:
Artinya; “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf [12] : 2)
Jadi Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan kitab al-Qur'an supaya kita memperhatikan ayat-ayatnya dan mengambil pengajaran yang ada di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta'alamengabarkan kepada kita bahwa Dia menurunkannya dalam bahasa Arab yang jelas dan terang supaya manusia dapat memahami dan memikirkan maknanya.
Kalaulah tujuan Allah menurunkan al-Qur'an supaya umat manusia memperhatikan ayat–ayatnya dengan bahasa Arab yang nyata dan jelas maka sudah semestinya al-Qur'an itu mengandung ilmu yang bisa dipahami oleh semua umat manusia, dan lebih-lebih lagi tentunya bagi bangsa Arab yang dengan bahasa mereka al-Qur'an itu diturunkan. Sebab jika tidak demikian maka tujuan dari diturunkannya akan sia-sia belaka.
Akidah muwafidhdhah tersebut merupakan sebentuk peremehan dan penghinaan terhadap akidah para sahabat dan tabi'in serta imam-imam yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik. Ini adalah tuduhan yang tidak mempunyai dasar sama sekali. Sungguh merekalah orang yang paling paham terhadap nash-nash wahyu karena mereka begitu dekat dengan zaman kenabian. Bahkan merekalah manusia yang paling berhak mendapat kemuliaan tersebut. Mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja dengan cara peribadatan yang petunjuknya mereka terima dan pahami langsung dari petunjuk al-Qur'an dan pemilik as-Sunnah. Jika mereka memahami betul jalan yang bisa mengantarkan kepadailah yang disembahnya, maka bagaimana mungkin mereka tidak mengenali sifat-sifat kesempurnaan Tuhan yang mereka sembah? Bagaimana mungkin mereka tidak memahaminash-nash yang diajarkan sendiri oleh Allah melalui Rasul-Nya?
Jadi ringkasnya, sesungguhnya akidah 'imam yang empat', inilah akidah yang benar yang bersumberkan dari sumber yang murni yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah. Tidak terdapat didalamnya pencemaran dan noda walaupun sedikit, apakah bentuknya takwil5ta'thil6,tasybih7, maupun tamtsil8. Adapun mu'aththil (pelaku ta'thil) dan musyabbih (pelaku tasybih) tidaklah memahami sifat-sifat Allah kecuali apa yang layak bagi makhluk. Hal ini sangat menyimpang, karena Allah tidak serupa dengan suatu apa pun, baik Dzat-Nya, Sifat-Nya maupun Af'al-Nya.
Semoga Dia menghimpunkan kita diatas akidah yang satu dan jalan yang satu, yaitu akidah al-Qur'an dan as-Sunnah. Hanya kepada Allah tempat kita semua berserah diri.
Catatan Kaki:
  1. ^ Adalah generasi mulia sejak kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para pengikutnya (tabi'in) dan orang-orang kemudian yang mengikutinya (tabi' tabi'in) serta setiap imam yang mengikuti mereka dengan baik.
  2. ^ Kitab al-Iman (Ta'liq Muhammad Khalil al-Harras), Dar al-Tiba'ah al-Muhammadiyah, hal. 350-351.
  3. ^ Qathful al-Tsamar, hal. 47-48.
  4. ^ Tafwidhul ma'na yang dilakukan kelompok ini adalah menyerahkan sepenuhnya makna dari lafal dalam dalil naqli sepenuhnya kepada Allah dan membiarkan lafal tersebut tanpa makna. Sementara Ahlus-Sunnah melakukan tafwidhul haqiqah, yaitu menyerahkan hakikatnya kepada Allah setelah menetapkan maknanya menurut makna yang diketahui dalam bahasa Arab.
  5. ^ Takwil dalam masalah ini adalah menyimpangkan sebuah arti kepada makna yang berbeda dari makna tekstualnya tanpa didasarkan pada teks lain atau penjelasan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Misalnya mengartikan tangan Allah dengan kekuasaan atau kehendak.
  6. ^ Ta'thil adalah menolak sifat-sifat Allah, baik sebagian maupun seluruhnya.
  7. ^ Tasybih adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.
  8. ^ Tamtsil adalah menggambarkan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.
http://ahlussunnah.info/
Artikel Ummu Zakaria

Friday, 11 March 2011

as-Salafush-Shalih sebagai Rujukan dalam Memahami al-Qur’an dan as-Sunnah

Oleh: Syaikh Abdul-Malik bin Ahmad Ramadhani


Pengertian “Salaf

Secara bahasa, Salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya. Ibnul-Manzhur berkata; “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.”1 Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fatimah az-Zahrah:
Sesungguhnya sebaik-baik Salaf bagimu adalah aku.2
Adapun yang dimaksud “Salaf” menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian disertakan kepada mereka –dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka3. Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka “Salaf” maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya (yang artinya):
Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.4
Namun, makna “Salaf” menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid’ah-bid’ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia di atas manhaj Salafsampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah.
Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah “as-Salaf ash-Shalih” (generasiSalaf yang shalih). Pada perkembangan selanjutnya istilah Salaf dinisbatkan kepada “orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan,” yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok islam sempalan).5

Kewajiban Merujuk kepada Pemahaman Salaf

Sebagai seorang Muslim kita dituntut untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya.
Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga kita tidak boleh menyelisihi mereka?
Jawabannya adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat itulah orang-orang yang paling paham tentang al-Qur’an dan as-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka.

Dalil-Dalil Bahwa Pemahaman Salaf Wajib Menjadi Rujukan6

Beberapa dalil di bawah ini menunjukan bahwa pemahaman Salaf wajib menjadi rujukan umat Islam dalam memahami agamanya.
  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100)
    Dalam ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji generasi Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka. Maka, dari sini dapat diketahui bahwa bila Salaf mengemukakan suatu pendapat kemudian diikuti oleh orang-orang pada generasi berikutnya, maka mereka menjadi orang-orang yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang didapat oleh generasi Salaf.
    Kalaulah mengikuti jejak Salaf tidak berbeda dengan mengikuti jejak selainnya, niscaya mereka tidak pantas untuk dipuji dan diridhai; dan hal seperti itu jelas bertentangan dengan ayat di atas. Dengan demikian, berdasarkan ayat di atas telah jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.
  2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Namun, di antara mereka ternyata ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran : 110)
    Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan adanya keutamaan generasi Salafdibanding keseluruhan umat karena pernyataan dalam ayat tersebut tertuju kepada kaum Muslimin, yang waktu itu tiada lain adalah para Sahabat, generasi Salaf pertama yang mendulang ilmu langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara.
    Adanya pemberian gelar kepada mereka sebagai umat terbaik menunjukkan bahwa mereka itu senantiasa istiqamah dalam segala hal, sehingga tidak akan menyimpang dari kebenaran.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan sifat mereka sebagai bukti kelurusan jalan hidup mereka, yaitu bahwa mereka selalu memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang seluruh yang mungkar.Berdasarkan ayat di atas, juga jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi hujjah dan rujukan bagi generasi sesudah mereka sampai Hari Kiamat.
  3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksiannya salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.7
    Apakah yang menjadi ukuran kebaikan pada diri mereka (tiga generasi Salaf) dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah warna kulit, bentuk tubuh, harta, atau yang sejenisnya? Jelas bukan! Dan tidak diragukan lagi bahwa ukuran kebaikan yang dimaksud tidak lain adalah ketakwaan hati dan amal shalih. Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenali.” (QS. Al-Hujurat : 13)Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kekayaan kalian. Allah hanya akan melihat kepada hati dan amal kalian.8
    Salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, menceritakan bahwa Allah telah menjelaskan kepada umat ini bahwa hati para Sahabat adalah sebaik-baik hati setelah hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Allah Azza wa Jalla menganugrahkan kepada mereka pemahaman yang tidak akan pernah dicapai oleh generasi berikutnya. Sehingga, apa-apa yang mereka nilai baik, maka akan baik menurut Allah Azza wa Jalla dan apa-apa yang mereka nilai buruk, juga menjadi buruk menurut Allah Azza wa Jalla9.
    Jadi jelaslah, pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya sampai Hari Akhir nanti.
  4. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…” (QS. Al-Baqarah : 143)
    Sebagaimana halnya kandungan ayat pada poin dua, walaupun sifat yang terkandung dalam ayat diatas adalah kaum Muslimin secara umum, namun generasi Salaf masuk dalam barisan pertama yang mendapatkan gelar sifat tersebut. Mereka adalah generasi yang paling adil dan pilihan. Mereka adalah generasi utama umat ini. Mereka paling adil dalam berbuat, dalam berkata-kata, dan dalam berkehendak.
    Memang sangat pantaslah mereka dijadikan saksi atas seluruh umat. Persaksian mereka akan diterima di hadapan Allah karena persaksian mereka berdasarkan ilmu dan kejujuran. Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Dan sembahan-sembahan selain Allah yang mereka sembah itu tidak dapat memberi pembelaan. (Orang-orang yang dapat memberikan pembelaan adalah) tidak lain orang yang bersaksi dengan benar (yaitu orang yang bertauhid) dan meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf : 86)Jika persaksian mereka diterima di hadapan Allah Azza wa Jalla, tentu tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya. Memang umat Islam sudah bersepakat bahwa tidak ada generasi yang berpredikat adil secara mutlak kecuali para Sahabat. Sehingga, berita mereka pasti diterima dan tidak perlu diteliti lagi kebenarannya.
    Dari situ jelaslah, bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi yang lain dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak dan jalan hidup mereka.
  5. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    “…dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman : 15)
    Para sahabat Radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah, sehingga Allah memberikan bimbingan kepada mereka bagaimana berkata dan beramal yang baik. Mengenai itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
    Dan orang-orang yang menjauhi thaghut10 (yaitu) tidak menyembahnya dan mau kembali kepada Allah, mereka mendapatkan kabar gembira; oleh sebab itu, sampaikanlah kabar tersebut kapada hamba-hamba-Ku, yang mendengar perkataan-perkataan lalu mengikuti mana yang paling baik di antara perkataan tersebut. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar : 17-18)
    Orang yang menelaah perjalanan hidup para Sahabat pasti akan mengetahui bahwa seluruh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut dimiliki oleh mereka. Jadi, memang sudah seharusnyalah kita mengikuti jejak mereka dalam memahami agama Allah Azza wa Jalla ini, baik dalam memahami Kitab-Nya maupun Sunnah Nabi-NyaShallallahu ‘alaihi wa sallam.Allah Azza wa Jalla mengancam orang yang tidak mau mengikuti jalan mereka dengan api neraka, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya (yang artinya):
    Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan tidak mengikuti jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan dia dikuasai oleh kesesatan dan akan Kami masukkan ke dalam neraka Jahannam. Padahal neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115)
    Dalam ayat tersebut, Allah mengancam orang yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman. Yaitu, jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum –sebagai generasi pertama yang dimaksudkan dalam ayat tersebut- dan generasi sesudahnya.
    Ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan mereka dalam memahami syariat Allah adalah wajib. Barang siapa yang berpaling dari jalan mereka, maka dia akan menuai kesesatan dan diancam dengan neraka Jahannam. Tidak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain jalan kaum Mukminin, sebagaimana tersebut dalam firman Allah Azza wa Jalla(yang artinya):
    Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada yang lain setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan. Maka, mengapa kamu mau dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus : 32)
    Siapa pun yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman pasti dia mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Siapa saja yang mau mengikuti jalan orang-orang beriman –jalan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum- jelas akan mendapat keselamatan.
    Jelaslah, pemahaman para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum –sebagai generasi pertama- dalam memahami agama adalah menjadi rujukan bagi kita semuanya. Barangsiapa yang berpaling darinya, maka sesungguhnya dia telah memilih kebengkokan dan kesempitan. Cukuplah neraka Jahannam sebagai balasan baginya; padahal Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali dan tempat tinggal -kita berlindung kepada Allah Azza wa Jalladarinya-.
  6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang menyebutkan tentang perpecahan umat.
    Dalam hadits tersebut memerintahkan kepada kita agar memegang teguh Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin Radhiyallahu ‘anhum. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):
    Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada perikehidupanku dan perikehidupan Khulafa’ ar-Rasyidin sepeninggalku.
    Beliau menyatakan bahwa dari sekian banyak kelompok Islam hanya ada satu yang selamat dan menjadi ahli Surga, yaitu mereka yang menempuh perikehidupan (Sunnah) sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnyaRadhiyallahu ‘anhum. Hal ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tegaskan dalam sabdanya (yang artinya):
    Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja yaitu golongan yang pada saat itu mengikuti perikehidupanku dan perikehidupan para Sahabatku.”Berdasarkan riwayat-riwayat di atas kita mengetahui bahwa perikehidupan para Sahabat Radhiyallahu’ anhum adalah perikehidupan Khulafa’ ar-Rasyidin dan perikehidupan RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi jelaslah, pemahaman sahabat Radhiyallahu ’anhum –sebagai generasi Salaf pertama- menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

Manhaj Salafi adalah Manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum

Berdasarkan dalil-dalil di atas jelaslah bahwa satu-satunya jalan keluar hanya terdapat padamanhaj Salaf. Lalu, siapakah diantara sekian banyak kelompok Islam itu yang benar-benar berpagang teguh kepada manhaj sahabat Radhiyallahu ‘anhum? Jawabannya tidak lain adalah manhaj Salafi.
Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut:
Pertama, paham-paham sesat seperti KhawarijRafidhah (Syi’ah)Murji’ahJahmiyah,QadariyyahMu’tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ ar-Rasyidin. Jadi, tidak mungkin menisbatkan bahwa jalan Sahabat sama dengan jalan mereka, karena yang datang lebih dahulu tidak dinisbatkan kepada yang muncul belakangan (datang kemudian), justru sebaliknya yang datang belakanganlah yang dinisbatkan kepada yang lebih awal. Dengan begitu, Islam itu adalah yang tidak seperti kelompok-kelompok sesat di atas.
Kedua, mereka yang masih sesuai asal mulanya yaitu sesuai manhaj Sahabat secara nyata kita dapatkan. Tidak kita temukan satu pun dari kelompok-kelompok Islam yang ber-manhajSahabat, kecuali Ahlus-Sunnah dari pengikut Salafush-Shalih Ahlul-Hadits. Adapun selain mereka, maka tidak terbukti. Kelompok-kelompok tersebut sebagiannya meragukan keadilan Sahabat, sebagian lagi mengkafirkan mereka, sebagian mengembalikan kepada akal masing-masing, bahkan sebagian meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah sama sekali. Maka bagaimana mungkin kelompok-kelompok tersebut dikatakan ber-manhaj Sahabat padahal jalan hidup mereka meninggalkan Sahabat Radhiyallahu ’anhum?11
Wallahu a’lam bish-shawab.
Catatan Kaki:
  1. ^ Lisanul Arab 9/159.
  2. ^ HR. Muslim (nomor 1450).
  3. ^ Kitab Limadza Ikhtartu Madzhab Salaf halaman 30.
  4. ^ Akan datang takhrij-nya sebentar lagi.
  5. ^ Ibid.
  6. ^ Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi halaman 86-98.
  7. ^ Hadits mutawwatir, diantaranya dengan lafadz diatas yang diriwayatkan oleh Bukhari (nomor 2509, 3451, dan 6065), Muslim (nomor 1533), dan lainnya.
  8. ^ HR. Muslim (nomor 2564).
  9. ^ Lihat Musnad Ahmad (I/379).
  10. ^ Thaghut; setiap yang disembah selain Allah dan ia ridha dengan penyembahan itu.
  11. ^ Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi halaman 16-98.
http://ahlussunnah.info/
Artikel Ummu Zakaria