Wednesday, 2 February 2011

Mengenal Lebih Dekat Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah

Ulama adalah pewaris para nabi. Keberadaannya di tengah umat bagai pelita dalam kegelapan. Titah dan bimbingannya laksana embun penyejuk dalam kehausan. Keharuman namanya pun seakan selalu hidup dalam sanubari umat.
Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Hakim lagi Maha Rahim tak membiarkan umat Islam –dalam setiap generasinya– lengang dari para ulama. Diawali dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia terbaik umat ini, kemudian dilanjutkan oleh para ulama setelah mereka, dari generasi ke generasi. Orang-orang pilihan pewaris para nabi yang selalu siaga membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dari pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstremis, kedustaan orang-orang sesat dengan kedok agama, dan penakwilan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang jahil. Di antara para ulama tersebut adalah Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullahu. Seorang ulama besar umat ini yang berilmu tinggi, berakidah lurus, berbudi pekerti luhur, lagi bernasab mulia.
Nama dan Garis Keturunan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Nama Al-Imam Asy-Syafi’i adalah Muhammad bin Idris. Beliau berasal dari Kabilah Quraisy yang terhormat (Al-Qurasyi), tepatnya dari Bani Al-Muththalib (Al-Muththalibi) dan dari anak cucu Syafi’ bin As-Saib (Asy-Syafi’i). Adapun ibu beliau adalah seorang wanita mulia dari Kabilah Azd (salah satu kabilah negeri Yaman). Kunyah beliau Abu Abdillah, sedangkan laqab (julukan) beliau Nashirul Hadits (pembela hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abdu Manaf bin Qushay, sebagaimana dalam silsilah garis keturunan beliau berikut ini:
Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan. (Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu, 1/76, 472, Siyar A’lamin Nubala’ karya Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu, 10/5-6, dan Tahdzibul Asma’ wal Lughat karya Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, 1/44)

Kelahiran dan Masa Tumbuh Kembang Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Para sejarawan Islam sepakat bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 H. Di tahun yang sama, Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi rahimahullahu meninggal dunia. Adapun tempat kelahiran beliau, ada tiga versi: Gaza, Asqalan, atau Yaman.
Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu dalam Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris (hal. 51-52), tidak ada pertentangan antara tiga versi tersebut, karena Asqalan adalah nama sebuah kota di mana terdapat Desa Gaza. Sedangkan versi ketiga bahwa Al-Imam Asy- Syafi’i dilahirkan di Yaman, menurut Al-Imam Al-Baihaqi, bukanlah negeri Yaman yang dimaksud, akan tetapi tempat yang didiami oleh sebagian kabilah Yaman, dan Desa Gaza termasuk salah satu darinya. (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah karya Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Aqil, 1/21-22, dan Manaqib Asy-Syafi’i, 1/74)
Dengan demikian tiga versi tersebut dapat dikompromikan, yaitu Al-Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di Desa Gaza, Kota ’Asqalan (sekarang masuk wilayah Palestina) yang ketika itu didiami oleh sebagian kabilah Yaman.
Para pembaca yang mulia, di Desa Gaza, Asy-Syafi’i kecil tumbuh dan berkembang tanpa belaian kasih seorang ayah alias yatim. Walau demikian, keberadaan sang ibu yang tulus dan penuh kasih sayang benar-benar menumbuhkan ketegaran pada jiwa beliau untuk menyongsong hidup mulia dan bermartabat. Pada usia dua tahun sang ibu membawa Asy-Syafi’i kecil ke bumi Hijaz. [1] Di Hijaz, Asy-Syafi’i kecil hidup di tengah-tengah keluarga ibunya (keluarga Yaman). Di sana pula Asy-Syafi’i kecil belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama, sehingga pada usia tujuh tahun beliau telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an dengan sempurna (30 juz).
Saat memasuki usia sepuluh tahun, sang ibu khawatir bila nasab mulia anaknya pudar. Maka dibawalah si anak menuju Makkah agar menapak kehidupan di tengah-tengah keluarga ayahnya dari Kabilah Quraisy. Kegemaran beliau pun tertuju pada dua hal: memanah dan menuntut ilmu. Dalam hal memanah beliau sangat giat berlatih, hingga dari sepuluh sasaran bidik, sembilan atau bahkan semuanya dapat dibidiknya dengan baik. Tak ayal bila kemudian unggul atas kawan-kawan sebayanya. Dalam hal menuntut ilmu pun tak kalah giatnya, sampai-sampai salah seorang dari kerabat ayahnya mengatakan: “Janganlah engkau terburu menuntut ilmu, sibukkanlah dirimu dengan hal-hal yang bermanfaat (bekerja)!”
Namun kata-kata tersebut tak berpengaruh sedikitpun pada diri Asy-Syafi’i. Bahkan kelezatan hidup beliau justru didapat pada ilmu dan menuntut ilmu, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada beliau ilmu yang luas. (Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris hal. 51-52, Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah, 1/22-23)
Perjalanan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dalam Menuntut Ilmu
Di Kota Makkah dengan segala panorama khasnya, Asy-Syafi’i kecil mulai mendalami ilmu nahwu, sastra Arab, dan sejarah. Keinginan beliau untuk menguasainya pun demikian kuat. Sehingga setelah memasuki usia baligh dan siap untuk berkelana menuntut ilmu, bulatlah tekad beliau untuk menimba ilmu bahasa Arab dari sumbernya yang murni. Pilihan pun jatuh pada Suku Hudzail yang berada di perkampungan badui pinggiran Kota Makkah, mengingat Suku Hudzail –saat itu– adalah suku Arab yang paling fasih dalam berbahasa Arab. Dengan misi mulia tersebut Asy-Syafi’i seringkali tinggal bersama Suku Hudzail di perkampungan badui mereka.
Aktivitas ini pun berlangsung cukup lama. Sebagian riwayat menyebutkan sepuluh tahun dan sebagian lainnya menyebutkan dua puluh tahun. Tak heran bila di kemudian hari Asy-Syafi’i menjadi rujukan dalam bahasa Arab.
Sebagaimana pengakuan para pakar bahasa Arab di masanya, semisal Al-Imam Abdul Malik bin Hisyam Al-Mu’afiri (pakar bahasa Arab di Mesir), Al-Imam Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’i (pakar bahasa Arab di Irak), Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam Al-Harawi (sastrawan ulung di masanya), dan yang lainnya. [2] (Lihat Tawalit Ta’sis Bima’ali Ibni Idris hal. 53, Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu, 10/263, Manaqib Asy-Syafi’i 1/102)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada Al-Imam Asy-Syafi’i kecintaan pada fiqh (mendalami ilmu agama).
Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi menerangkan bahwa kecintaan Al-Imam Asy-Syafi’i pada fiqh bermula dari sindiran sekretaris ayah Mush’ab. Kisahnya, pada suatu hari Al-Imam Asy-Syafi’i sedang menaiki hewan tunggangannya sembari melantunkan bait-bait syair.
Maka berkatalah sekretaris ayah Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi kepada beliau: “Orang seperti engkau tak pantas berperilaku demikian. Di manakah engkau dari fiqh?” Kata-kata tersebut benar-benar mengena pada jiwa Al-Imam Asy-Syafi’i, hingga akhirnya bertekad untuk mendalami ilmu agama kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji –saat itu sebagai Mufti Makkah– kemudian kepada Al-Imam Malik bin Anas di Kota Madinah. (Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/96)
Upaya menimba berbagai disiplin ilmu agama ditempuhnya dengan penuh kesungguhan. Dari satu ulama menuju ulama lainnya dan dari satu negeri menuju negeri lainnya; Makkah-Madinah-Yaman-Baghdad. Di daerahnya (Makkah), Al-Imam Asy-Syafi’i menimba ilmu dari Muslim bin Khalid Az-Zanji, Dawud bin Abdurrahman Al-Aththar, Muhammad bin Ali bin Syafi’, Sufyan bin Uyainah, Abdurrahman bin Abu Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Iyadh, dan yang lainnya.
Pada usia dua puluh sekian tahun –dalam kondisi telah layak berfatwa dan pantas menjadi seorang imam dalam agama ini– Al-Imam Asy-Syafi’i berkelana menuju Kota Madinah guna menimba ilmu dari para ulama Madinah: Al-Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Abu Yahya Al-Aslami, Abdul Aziz Ad-Darawardi, Aththaf bin Khalid, Ismail bin Ja’far, Ibrahim bin Sa’d, dan yang semisal dengan mereka.
Kemudian ke negeri Yaman, menimba ilmu dari para ulamanya: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadhi, dan yang lainnya. Demikian pula di Baghdad, beliau menimba ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani ahli fiqh negeri Irak, Ismail bin ‘Ulayyah, Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, dan yang lainnya. (Diringkas dari Siyar A’lamin Nubala’, 10/6, 7, dan 12)
Kedudukan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu di Mata Pembesar Umat
Perjalanan Al-Imam Asy-Syafi’i yang demikian panjang dalam menuntut ilmu benar-benar membuahkan keilmuan yang tinggi, prinsip keyakinan (manhaj) yang kokoh, akidah yang lurus, amalan ibadah yang baik, dan budi pekerti yang luhur. Tak heran bila kemudian posisi dan kedudukan beliau demikian terhormat di mata pembesar umat dari kalangan para ahli di bidang tafsir, qiraat Al-Qur’an, hadits, fiqh, sejarah, dan bahasa Arab. Kitab-kitab biografi yang ditulis oleh para ulama pun menjadi saksi terbaik atas itu semua. Berikut ini contoh dari sekian banyak penghormatan pembesar umat terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut:
- Dalam kitab Tahdzibut Tahdzib karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu disebutkan bahwa:
Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullahu berkata: “Tidak ada satu hadits pun yang Asy-Syafi’i keliru dalam meriwayatkannya.”
Al-Imam Abu Dawud rahimahullahu berkata: “Asy-Syafi’i belum pernah keliru dalam meriwayatkan suatu hadits.”
Al-Imam Ali bin Al-Madini rahimahullahu berkata kepada putranya: “Tulislah semua yang keluar dari Asy-Syafi’i dan jangan kau biarkan satu huruf pun terlewat, karena padanya terdapat ilmu.”
Al-Imam Yahya bin Ma’in rahimahullahu berkata tentang Asy-Syafi’i: “Tsiqah (terpercaya).”
Al-Imam Yahya bin Sa’id Al-Qaththan rahimahullahu berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berakal dan lebih paham tentang urusan agama daripada Asy-Syafi’i.”
Al-Imam An-Nasa’i rahimahullahu berkata: “Asy-Syafi’i di sisi kami adalah seorang ulama yang terpercaya lagi amanah.”
Al-Imam Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi rahimahullahu berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berilmu dari Asy-Syafi’i dalam hal sejarah.”
- Dalam Mukadimah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir rahimahullahu terhadap kitab Ar-Risalah karya Al-Imam Asy-Syafi’i (hal. 6) disebutkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata: “Kalau bukan karena Asy-Syafi’i (atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, pen.), niscaya kami tidak bisa memahami hadits dengan baik.”
Beliau juga berkata: “Asy-Syafi’i adalah seorang yang paling paham tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
- Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Dawud bin Ali Azh-Zhahiri rahimahullahu disebutkan: “Telah berkata kepadaku Ishaq bin Rahawaih: ‘Suatu hari aku pergi ke Makkah bersama Ahmad bin Hanbal untuk berjumpa dengan Asy-Syafi’i. Aku pun selalu bertanya kepadanya tentang sesuatu (dari agama ini) dan aku dapati beliau sebagai seorang yang fasih serta berbudi pekerti luhur. Setelah kami berpisah dengan beliau, sampailah informasi dari sekelompok orang yang ahli di bidang tafsir Al-Qur’an bahwa Asy-Syafi’i adalah orang yang paling mengerti tafsir Al-Qur’an di masa ini. Kalaulah aku tahu hal ini, niscaya aku akan bermulazamah (belajar secara khusus) kepadanya’.”
Dawud bin Ali Azh-Zhahiri berkata: “Aku melihat adanya penyesalan pada diri Ishaq bin Rahawaih atas kesempatan yang terlewatkan itu.”
- Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu (2/42-44 dan 48) disebutkan bahwa:
Al-Imam Abdul Malik bin Hisyam Al-Mu’afiri rahimahullahu berkata: “Asy-Syafi’i termasuk rujukan dalam bahasa Arab.”
Al-Imam Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’i rahimahullahu berkata: “Aku mengoreksikan syair-syair Suku Hudzail kepada seorang pemuda Quraisy di Makkah yang bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.”
Al-Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam Al-Harawi rahimahullahu berkata: “Adalah Asy-Syafi’i sebagai rujukan dalam bahasa Arab atau seorang pakar bahasa Arab.”
Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata: “Perkataan Asy-Syafi’i dalam hal bahasa Arab adalah hujjah.”
Al-Mubarrid rahimahullahu berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Asy-Syafi’i. Beliau termasuk orang yang paling ahli dalam hal syair, sastra Arab, dan dialek bacaan (qiraat) Al-Qur’an.”
Menelusuri Prinsip Keyakinan (Manhaj) Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Prinsip keyakinan (manhaj) Al-Imam Asy-Syafi’i sesuai dengan prinsip keyakinan (manhaj) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Untuk lebih jelasnya, simaklah keterangan berikut ini:
a. Pengagungan Al-Imam Asy-Syafi’i terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Al-Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama yang selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berpegang teguh dengan keduanya. Cukuplah karya monumental beliau, kitab Al-Umm (terkhusus pada Kitab Jima’ul Ilmi dan Kitab Ibthalul Istihsan) dan juga kitab Ar-Risalah menjadi bukti atas semua itu. Demikian pula beliau melarang dari taklid buta. Sebagaimana dalam wasiat beliau berikut ini:
“Jika kalian mendapati sesuatu pada karya tulisku yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dan tinggalkan perkataanku.”
“Jika apa yang aku katakan menyelisihi hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lah yang lebih utama, dan jangan kalian taklid kepadaku.” (Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/472 dan 473)
Al-Imam Al-Muzani rahimahullahu (salah seorang murid senior Al-Imam Asy-Syafi’i) di awal kitab Mukhtashar-nya berkata: “Aku ringkaskan kitab ini dari ilmu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullahu serta dari kandungan ucapannya untuk memudahkan siapa saja yang menghendakinya, seiring dengan adanya peringatan dari beliau agar tidak bertaklid kepada beliau maupun kepada yang lainnya. Hal itu agar seseorang dapat melihat dengan jernih apa yang terbaik bagi agamanya dan lebih berhati-hati bagi dirinya.” (Dinukil dari Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 1/127)
b. Hadits ahad dalam pandangan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Menurut Al-Imam Asy-Syafi’i (dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah selainnya), tak ada perbedaan antara hadits mutawatir dan hadits ahad dalam hal hujjah, selama derajatnya shahih. Bahkan dalam kitab Ar-Risalah (hal. 369-471), Al-Imam Asy-Syafi’i menjelaskan secara panjang lebar bahwa hadits ahad adalah hujjah dalam segenap sendi agama. Lebih dari itu beliau membantah orang-orang yang mengingkarinya dengan dalil-dalil yang sangat kuat. Sehingga patutlah bila beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). [3]
c. Tauhid dalam pandangan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Al-Imam Asy- Syafi’i merupakan sosok yang kokoh tauhidnya. Sangat mendalam pengetahuannya tentang tauhid dan jenis-jenisnya, baik tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah maupun tauhid asma’ wash shifat. Bahkan kitab-kitab beliau merupakan contoh dari cerminan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Di antaranya apa yang terdapat dalam mukadimah kitab Ar-Risalah berikut ini: “Segala puji hanya milik Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka. Segala puji hanya milik Allah yang tidaklah mungkin satu nikmat dari nikmat-nikmat-Nya disyukuri melainkan dengan nikmat dari-Nya pula. Yang mengharuskan seseorang kala mensyukuri kenikmatan-Nya yang lampau untuk mensyukuri kenikmatan-Nya yang baru. [4]
Siapa pun tak akan mampu menyifati hakikat keagungan-Nya. Dia sebagaimana yang disifati oleh diri-Nya sendiri dan di atas apa yang disifati oleh para makhluk-Nya. Aku memuji-Nya dengan pujian yang selaras dengan kemuliaan wajah-Nya dan keperkasaan ketinggian- Nya. [5] Aku memohon pertolongan dari-Nya, suatu pertolongan dari Dzat yang tidak ada daya dan upaya melainkan dari-Nya. Aku memohon petunjuk dari-Nya, Dzat yang dengan petunjuk-Nya tidak akan tersesat siapa pun yang ditunjuki-Nya. Aku pun memohon ampunan-Nya atas segala dosa yang telah lalu maupun yang akan datang, permohonan seorang hamba yang meyakini bahwa tiada yang berhak diibadahi melainkan Dia, seorang hamba yang mengetahui dengan pasti bahwa tiada yang dapat mengampuni dosanya dan menyelamatkannya dari dosa tersebut kecuali Dia. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia semata, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya…” [6]
Al-Imam Asy-Syafi’i sangat berupaya untuk menjaga kemurnian tauhid. Oleh karena itu, beliau sangat keras terhadap segala perbuatan yang dapat mengantarkan kepada syirik akbar (syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam), seperti mendirikan bangunan di atas kubur dan menjadikannya sebagai tempat ibadah, bersumpah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebagainya. (Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fi Itsbatil Akidah, 2/517)
Penting untuk disebutkan pula bahwa prinsip Al-Imam Asy-Syafi’i dalam hal tauhid asma’ wash shifat sesuai dengan prinsip Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum serta menyelisihi prinsip kelompok Asy’ariyyah ataupun Maturidiyyah. [7] Yaitu menetapkan semua nama dan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Menetapkannya tanpa menyerupakan dengan sesuatu pun, dan mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa meniadakan (ta’thil) nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana yang dikandung firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ‏‎ ‎السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan lagi Maha melihat.” (Asy-Syura: 11)
Jauh dari sikap membayangkan bagaimana hakikat sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala (takyif) dan jauh pula dari sikap memalingkan makna sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sebenarnya kepada makna yang tidak dimaukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya (tahrif). Demikianlah prinsip yang senantiasa ditanamkan Al-Imam Asy-Syafi’i kepada murid-muridnya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Telah diriwayatkan dari Ar-Rabi’ dan yang lainnya, dari para pembesar murid-murid Asy-Syafi’i, apa yang menunjukkan bahwa ayat dan hadits tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dimaknai sesuai dengan makna zhahirnya, tanpa dibayangkan bagaimana hakikat sifat tersebut (takyif), tanpa diserupakan dengan sifat makhluk-Nya (tasybih), tanpa ditiadakan (ta’thil), dan tanpa dipalingkan dari makna sebenarnya yang dimaukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tahrif).” (Al-Bidayah wan Nihayah, 10/265)
d. Permasalahan iman menurut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Iman menurut Al-Imam Asy-Syafi’i mencakup ucapan, perbuatan, dan niat (keyakinan). Ia bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan. Adapun sikap beliau terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat darinya, maka selaras dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menyelisihi prinsip ahlul bid’ah, dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, maupun Murji’ah. Yaitu tergantung kepada kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk diampuni maka terampunilah dosanya, dan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak untuk diazab maka akan diazab terlebih dahulu dalam An-Nar, namun tidak kekal di dalamnya. (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 2/516)
e. Permasalahan takdir dan Hari Akhir menurut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya kehendak para hamba tergantung kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah mereka berkehendak kecuali atas kehendak Allah Rabb semesta alam. Manusia tidaklah menciptakan amal perbuatannya sendiri. Amal perbuatan mereka adalah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya takdir baik dan takdir buruk semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya azab kubur benar adanya, pertanyaan malaikat kepada penghuni kubur benar adanya, hari kebangkitan benar adanya, penghitungan amal di hari kiamat benar adanya, Al-Jannah dan An-Nar benar adanya, dan hal lainnya yang disebutkan dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta disampaikan melalui lisan para ulama di segenap negeri kaum muslimin (benar pula adanya).” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/415)
Ketika ditanya tentang dilihatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala (ru’yatullah) di hari kiamat, maka Al-Imam Asy-Syafi’i mengatakan: “Demi Allah, jika Muhammad bin Idris tidak meyakini akan dilihatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat, niscaya dia tidak akan beribadah kepada-Nya di dunia.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/419)
f. Penghormatan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Al-Imam Asy-Syafi’i sangat menghormati para sahabat Nabi. Hal ini sebagaimana tercermin dalam kata-kata beliau berikut ini: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Keutamaan itu pun (sungguh) telah terukir melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu keutamaan yang belum pernah diraih oleh siapa pun setelah mereka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka dan menganugerahkan kepada mereka tempat tertinggi di sisi para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Merekalah para penyampai ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Mereka pula para saksi atas turunnya wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, mereka sangat mengetahui apa yang dimaukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan hal-hal yang bersifat umum maupun khusus, serta yang bersifat keharusan maupun anjuran. Mereka mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui. Mereka di atas kita dalam hal ilmu, ijtihad, wara’, ketajaman berpikir dan menyimpulkan suatu permasalahan berdasarkan ilmu. Pendapat mereka lebih baik dan lebih utama bagi diri kita daripada pendapat kita sendiri. Wallahu a’lam.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/442)
Demikian pula beliau sangat benci terhadap kaum Syi’ah Rafidhah yang menjadikan kebencian terhadap mayoritas para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai prinsip dalam beragama. Hal ini sebagaimana penuturan Yunus bin Abdul A’la: “Aku mendengar celaan yang dahsyat dari Asy-Syafi’i –jika menyebut Syi’ah Rafidhah– seraya mengatakan: ‘Mereka adalah sejelek-jelek kelompok’.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/468)
g. Sikap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap kelompok-kelompok sesat
Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu berkata: “Adalah Asy-Syafi’i seorang yang bersikap keras terhadap ahlul ilhad (orang-orang yang menyimpang dalam agama) dan ahlul bid’ah. Beliau tampakkan kebencian dan pemboikotan (hajr) tersebut kepada mereka.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 1/469)
Al-Imam Al-Buwaithi rahimahullahu berkata: “Aku bertanya kepada Asy-Syafi’i, ‘Apakah aku boleh shalat di belakang seorang yang berakidah Syi’ah Rafidhah?’ Maka beliau menjawab: ‘Jangan shalat di belakang seorang yang berakidah Syi’ah Rafidhah, seorang yang berakidah Qadariyyah, dan seorang yang berakidah Murjiah’.” (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fi Itsbatil Akidah, 1/480)
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Tidaklah seorang sufi bisa menjadi sufi tulen hingga mempunyai empat karakter: pemalas, suka makan, suka tidur, dan selalu ingin tahu urusan orang lain.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 2/207)
Akhir kata, demikianlah sekelumit tentang kehidupan Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullahu dan prinsip keyakinan (manhaj) beliau yang dapat kami sajikan kepada para pembaca. Seorang ulama besar yang penuh jasa, yang meninggal dunia di Mesir pada malam Jum’at 29 Rajab 204 H, bertepatan dengan 19 Januari 820 M, dalam usia 54 tahun. [8]
Rahimahullahu rahmatan wasi’ah, wa ghafara lahu, wa ajzala matsubatahu, wa askanahu fi fasihi jannatihi. Amin.
Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.
Catatan kaki:
[1] Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia adalah Makkah, dan sebagian yang lain bukan Makkah.
[2] Lihat perkataan mereka pada sub judul Kedudukan Al-Imam Asy-Syafi’i di mata pembesar umat.
[3] Lihat Manaqib Asy-Syafi’i, 1/472.
[4] Ungkapan di atas mengandung makna tauhid rububiyah.
[5] Ungkapan di atas mengandung makna tauhid asma’ wash shifat.
[6] Ungkapan di atas mengandung makna tauhid uluhiyah.
[7] Sungguh mengherankan orang-orang yang sangat fanatik terhadap madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i dalam masalah fiqh, sementara dalam masalah tauhid asma’ wash shifat mereka tinggalkan madzhab beliau yang lurus, kemudian berpegang dengan madzhab Asy’ariyyah atau Maturidiyyah yang sesat.
[8] Lihat Mukadimah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir terhadap kitab Ar-Risalah hal. 8.

**Artikel: Ummu Zakaria

Tuesday, 1 February 2011

Bagaikan Pahala Lailatul Qadar

7273 – حدثنا أبو بكر قال حدثنا بن إدريس عن حصين عن مجاهد عن عبد الله بن عمرو وقال: من صلى أربعا بعد العشاء كن كقدرهن من ليلة القدر
Dari Mujahid, dari Abdullah bin ‘Amr, beliau mengatakan, “Siapa saja yang shalat sunah empat rakaat setelah shalat Isya maka orang tersebut bagaikan shalat empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7273, al Albani dalam Silsilah Dhaifah jilid 11 bagian pertama hal 103 ketika membahas hadits no 5060 mengatakan, “Sanadnya sahih”).
7274 – حدثنا محمد بن فضيل عن العلاء بن المسيب عن عبد الرحمن بن الأسود عن أبيه عن عائشة قالت: أربع بعد العشاء يعدلن بمثلهن من ليلة القدر
Dari Aisyah, beliau mengatakan, “Shalat sunnah sebanyak empat rakaat setelah shalat Isya itu pahalanya senilai dengan empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7274).
7275 – حدثنا وكيع عن عبد الجبار بن عياش عن قيس بن وهب عن مرة عن عبد الله قال: من صلى أربعا بعد العشاء لا يفصل بينهن بتسليم عدلن بمثلهن من ليلة القدر
Dari Murrah, dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan, “Barang siapa yang shalat sunnah sebanyak empat rakaat sekaligus tanpa diselingi salam setelah selesai mengerjakan shalat Isya, pahalanya itu semisal empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7275)
7276 – حدثنا وكيع عن عبد الواحد بن أيمن عن أبيه عن تبيع عن كعب بن ماتع قال من صلى أربعا بعد العشاء يحسن فيهن الركوع والسجود عدلن مثلهن من ليلة القدر
Dari Ka’ab bin Mati’, beliau mengatakan, “Siapa saja yang shalat sunnah sebanyak empat rakaat setelah shalat Isya’ yang dikerjakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna, pahalanya itu semisal empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7276)
7278 – حدثنا يعلى عن الأعمش عن مجاهد قال أربع ركعات بعد العشاء الآخرة يكن بمنزلتهن من ليلة القدر
Dari al A’masy dari Mujahid, beliau mengatakan, “Shalat sunnah empat rakaat setelah shalat Isya’ itu bagaikan empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7278)
7279 – حدثنا الفضل بن دكين عن بكير بن عامر عن عبد الرحمن بن الأسود قال من صلى أربع ركعات بعد العشاء الآخرة عدلن بمثلهن من ليلة القدر
Dari Abdurrahman bin al Aswad, beliau mengatakan, “Siapa saja yang mengerjakan shalat sunah sebanyak empat rakaat setelah shalat Isya pahalanya itu semisal empat rakaat ketika Lailatul Qadar” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf no 7279)
Al Albani mengatakan, “Kemudian Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan -semisal riwayat Abdullah bin ‘Amr- dari Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ka’ab bin Mati’, Mujahid, dan Abdurrahman bin al Aswad secara mauquf. Sanad yang ada sampai beliau-beliau adalah sanad yang sahih kecuali sanad sampai Ka’ab bin Mati’. Meski riwayat-riwayat tersebut mauquf (sampai pada sahabat, ed), namun status serupa dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingat yang disampaikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditangkap dengan cara berijtihad. Ini adalah realita yang sangat jelas” (Silsilah Dhaifah jilid 11 bagian pertama hal 103 ketika membahas hadits no 5060, terbitan Maktabah al Ma’arif Riyadh, cetakan pertama 1422 H).
Artikel www.ustadzaris.com

**Artikel: Ummu Zakaria

Biji Tasbih Bukan Bid’ah

ويستعين علي ضبط عدد التهليلات وعدد التسبيح والتحميد والتكبير بعقد الأصابع لأن الأصابع مسؤولات مستنطقات يوم القيامة.
Syaikh Shalih al Fauzan mengatakan, “Untuk menghitung berapa jumlah bacaan tahlil, tasbih, tahmid dan takbir (setelah shalat fardhu) bisa memanfaatkan jari jemari untuk menghitungnya karena jari jemari itu nanti akan ditanyai dan diminta untuk berbicara pada hari Kiamat nanti.
ويباح استعمال السبحة ليعد بها الأذكار والتسبيحات من غير اعتقاد أن فيها فضيلة خاصة وكرهها بعض العلماء.
Dibolehkan menggunakan biji tasbih untuk menghitung bacaan-bacaan dzikir dan tasbih asal tanpa ada keyakinan bahwa biji tasbih itu mengandung keutamaan khusus. Namun menggunakan biji tasbih itu dimakruhkan oleh sebagian ulama.
وإن اعتقد أن لها فضيلة فاتخاذها بدعة وذلك مثل السبح التي يتخذها الصوفية ويعلقونها في أعناقهم أو يجعلونها كالأسورة في أيديهم! وهذا مع كونه بدعة فإن فيه رياء وتكلفا.
Jika diiringi keyakinan bahwa biji tasbih itu memiliki keutamaan khusus maka menggunakannya hukumnya adalah bid’ah semisal biji tasbih yang dipakai oleh orang-orang sufi. Mereka jadikan biji tasbih sebagai kalung di leher mereka atau menjadikannya sebagai gelang di tangan. Perbuatan semacam ini disamping bid’ah adalah riya dan memaksakan diri”
[al Mulakhkhos al Fiqhi juz 1 hal 159 terbitan Dar al ‘Ashimah Riyadh, cet pertama 1421 H].
Artikel www.ustadzaris.com
**Artikel: Ummu Zakaria

GARA-GARA WANITA

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ
Perempuan itu menghadap ke muka dalam rupa setan dan menghadap ke belakang dengan rupa setan” (HR Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).
Tentang makna hadits di atas, Nawawi berkata, “Para ulama’ menyatakan bahwa makna hadits adalah isyarat bahwa hawa nafsu dan maksiat itu terjadi karena perempuan, karena Allah menjadikan dalam diri para laki-laki kecenderungan kepada perempuan dan merasa nikmat gara-gara memandang perempuan bahkan memandang berbagai hal yang berkaitan dengan mereka. Jadi perempuan itu serupa dengan setan dalam masalah suka mengajak kepada keburukan dengan bisikan dan anggapan indah yang dibuat oleh setan.
Bisa disimpulkan dari hadits di atas bahwa perempuan itu tidak sepatutnya keluar rumah dan berada di antara para laki-laki kecuali dalam kondisi terpaksa.
Laki-laki juga seyogyanya tidak memandang kepada perempuan meski hanya pakaiannya saja dan seharusnya berpaling dari perempuan tanpa terkecuali (Syarh Muslim oleh Nawawi, 9/178).

Sedangkan penulis Aunul Ma’bud, Syarh Sunan Abi Daud mengatakan, “Nabi menyerupakan perempuan dengan setan karena memiliki kesamaan karakter yaitu suka menimbulkan was-was dan menyesatkan yang dibisiki. Alasan lain adalah karena memandang perempuan dari arah manapun hanya menghasilkan dorongan untuk melakukan keburukan” (Aunul Ma’bud, 6/132). Hal senada juga disampaikan oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi, “Nabi menyerupakan perempuan dengan setan karena adanya kesamaan karakter yaitu suka berbisik-bisik dan suka mengajak kepada keburukan” (Tuhfatul Ahwadzi 4/270).
Mujahid berkata, “Ketika seorang perempuan datang menuju seorang laki-laki maka setan duduk di atas kepalanya lalu menjadikan perempuan tersebut menarik bagi laki-laki yang memandangnya. Sedangkan ketika seorang perempuan berjalan membelakangi laki-laki maka setan duduk di pantatnya lalu menjadikannya menarik bagi laki-laki yang memandangnya” (Tafsir Qurthubi 12/227).
Demikianlah keadaan kebanyakan perempuan, menjadi makhluk penggoda iman kecuali perempuan-perempuan yang Alloh sayangi. Namun betapa sedikitnya jumlah mereka.
Iblis menyodorkan godaan melalui perempuan guna menyesatkan dan merusak. Al Qur’an telah menguraikan contoh-contoh bencana yang terjadi karena faktor perempuan.
Karena Perempuan Alloh hancurkan kaum Tsamud
Ibnu Jarir dan ulama’ salaf yang lain menyebutkan adanya peranan dua perempuan dari kaum Tsamud. Yang pertama adalah Shaduq putri dari al Mahya bin Zuhair bin al Mukhtar. Dia adalah perempuan kaya dan berstatus bangsawan. Semula dia bersuamikan seorang muslim namun akhirnya perempuan ini menceraikan suaminya. Setelah itu dia undang saudara sepupunya sendiri, Mashro’ bin Mahraj lalu menawarkan tubuhnya kepada sepupunya tersebut dengan satu persyaratan yaitu membunuh onta Nabi Shalih.
Peran kedua untuk hancur dan binasanya kaum Tsamud itu di tangan Anbarah binti Ghanim bin Majlaz yang memiliki julukan Ummu Utsman. Dia adalah seorang perempuan tua dan kafir. Dia memiliki empat anak perempuan dari suaminya, Dzu’ab bin Amru yang merupakan salah seorang pemuka kaum Tsamud. Perempuan tua ini menawarkan keempat putrinya kepada Qadar bin Salif. Bila Qadar bisa membunuh onta Nabi Shalih maka dia bisa memilih satu dari empat putri Anbarah.
Kedua pemuda ini, Mashro’ dan Qadar bersegera untuk bisa membunuh onta tersebut dengan berusaha mencari dukungan tenaga. Ada tujuh orang yang merespon dan siap membantu. Sehingga jumlah total mereka adalah sembilan orang. Mereka inilah yang Alloh maksudkan dalam QS an Naml:48.
Sembilan orang ini lalu mempropaganda yang lain untuk membunuh onta. Akhirnya seluruh kabilah Tsamud bersepakat dan mendukung rencana pembunuhan onta tersebut.
Akhirnya mereka berangkat untuk mengintai onta. Ketika onta yang dimaksudkan muncul dari kalangan onta-onta yang hendak mendatangi mata air, Mashro’ bersembunyi untuk menyergap. Mashro’ akhirnya memanah kaki onta tersebut dan anak panah berhasil menancap di tulang kaki onta. Saat itu datanglah para gadis-gadis untuk membujuk dan menyemangati para laki-laki agar membantu usaha pembunuhan onta tersebut dengan cara menebar pesona melalui wajah-wajah cantik mereka.
Qadar bin Saliflah yang paling dahulu mengayunkan pedangnya dengan keras sehingga urat di atas tumit onta tersebut putus lalu tersungkurlah onta itu ke bumi. (Lihat Tafsir Thabari 12/531-534 dan Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir 1/127).
Perempuan yang menyemangati Mashro’ adalah isteri pejabat. Sedangkan yang menyemangati Qadar bin Salif juga isteri pejabat.
Perempaun pertama menawarkan tubuhnya kepada Mashro’. Sedangkan perempuan kedua menawarkan putri-putrinya kepada Qadar. Secara umum perempuan-perempuan kabilah Tsamud juga membujuk para laki-laki untuk membunuh onta dengan menonjolkan kecantikan wajah mereka.
Singkat kata, akhirnya kaum Tsamud Alloh hancurkan karena mereka berani membunuh onta Nabi Shalih. Keberanian ini timbul dan menguat karena para perempuan.
Karena Perempuan Kepala Nabi Yahya dipenggal
Hal ini diucapkan oleh Asma’ binti Abu Bakr kepada Ibnu Umar di salah satu bagian dari Masjidil Haram. Ini terjadi ketika Ibnu Zubair, putra Asma’ disalib. Ibnu Umar menoleh ke arah Asma’ seraya berkata, “Jasad anakmu ini sebenarnya bukanlah apa-apa, sdangkan yang di sisi Alloh hanyalah arwah. Oleh karena itu bertakwalah kepada Alloh dan bersabarlah”.
Jawaban Asma’, “Apa yang menghalangiku untuk bersabar. Kepala Yahya bin Zakaria saja yang jauh lebih mulia telah dihadiahkan kepada seorang pelacur” (Siyar A’lamin Nubala’ 2/294 dengan para perawi yang kredibel). Perkataan Asma’ di atas menunjukkan bahwa Nabi Yahya dibunuh karena permintaan seorang pelacur.
Walaupun buku-buku sejarah berbeda-beda dalam menjelaskan kejadian ini namun bisa kita simpulkan isinya adalah sebagai berikut.
Ada seorang raja di Damaskus kala itu yang ingin menikahi salah seorang mahramnya atau perempuan yang tidak halal dia nikahi. Nabi Yahya berupaya mencegah niat buruk sang raja ini namun ternyata perempuan tersebut juga menginginkan sang raja. Maka dua orang ini merasa jengkel dengan Nabi Yahya. Pada saat terjadi hubungan badan yang haram antara perempuan ini dengan raja, perempuan tersebut meminta kepada sang raja agar mempersembahkan darah Nabi Yahya kepadanya. Raja ini lantas dengan penuh ketundukan memerintahkan seseorang agar membunuh Nabi Yahya. Setelah berhasil dilaksanakan, kepala Nabi Yahya dipersembahkan kepada perempuan tersebut. (Lihat al Bidayah wan Nihayah 1/49).
Demikianlah lemahnya laki-laki di hadapan godaan perempuan, seorang makhluk yang nampaknya lemah secara fisik namun memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat seorang laki-laki yang gagah perkasa bertekuk lutut di hadapannya sehingga datang memelas mengharap segelas rasa cintanya. Benarlah apa yang Alloh firmankan,
وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً
“Dan Manusia itu diciptakan dalam kondisi lemah”(QS an Nisa’:28). Terkait ayat di atas terdapat penjelasan yang menarik dari seorang tabiin yaitu Thawus sebagaimana yang disebutkan oleh Sufyan ats Tsauri dalam Tafsirnya. Beliau mengatakan
كان اذا نظر الى النساء لم يصبر عنهن
“Jika laki-laki-laki memandang seorang maka dia tidak akan mampu ‘bersabar’ menahan gejolak yang ada di hatinya terhadap perempuan tersebut” (Jawabul Kafi karya Ibnul Qayyim hal 171, cetakan Darul Kutub ‘Ilmiyyah).
Secara khusus Ibnul Qoyyim menjelaskan ayat di atas dengan mengatakan, “Dalam ayat ini Alloh menyebutkan keringanan yang Alloh berikan untuk manusia dan menceritakan kelemahan manusia. Hal ini menunjukkan lemahnya manusia (baca:laki-laki) untuk menghadapi keinginan yang satu ini. Oleh karena itu Alloh memberikan keringanan terkait syahwat terhadap perempuan dengan membolehkan menikahi perempuan-perempuan yang diinginkan baik dua, tiga ataupun empat. Di samping itu Alloh bolehkan untuk menyetubuhi budak-budak perempuan yang dimiliki atau bahkan menikahi budak perempuan milik orang lain jika memang diperlukan. Ini semua merupakan terapi dari Alloh untuk mengobati syahwat yang satu ini dalam rangka memberi keringanan dan sebagai rahmat untuk makhluk yang lemah ini” (Zaadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim 4/250, cetakan Muassasah ar Risalah).
Sungguh tepat penjelasan Ibnu Abbas terkait pengertian mata yang khianat dalam surat Ghafir:19. Beliau berkata, “Yang dimaksud ‘mata yang khianat’ adalah seorang laki-laki yang bertamu di sebuah rumah. Di rumah tersebut terdapat seorang perempuan yang cantik atau kebetulan seorang perempuan cantik melintas di depan rumah tersebut. Jika tuan rumah tidak memperhatikannya, dia pandangi perempuan tersebut. Namun jika tuan rumah memperhatikannya maka buru-buru dia menundukkan pandangan. Demikian yang dia lakukan berulang kali. Sungguh Alloh mengetahui isi hati laki-laki ini. Dia berkenginan andai bisa memandang kemaluan perempuan tersebut” (Riwayat Ibnu Hatim, lihat Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas).
Artikel www.ustadzaris.com

**Artikel: Ummu Zakaria

Pojok Hikmah: Allah Telah Menjadikan Kunci Bagi Segala Sesuatu

Al- Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu kunci untuk membukanya, Allah menjadikan kunci pembuka shalat adalah  bersuci sebagaiman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Kunci shalat adalah bersuci’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kunci pembuka haji adalah ihram, kunci kebajikan adalah kejujuran, kunci surga adalah tauhid, kunci ilmu adalah bagusnya bertanya dan mendengarkan, kunci kemenangan adalah kesabaran, kunci ditambahnya nikmat adalah syukur, kunci kewalian adalah mahabbah dan dzikir, kunci keberuntungan adalah takwa, kunci taufik adalah harap dan cemas kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kunci dikabulkan adalah doa, kunci keinginan terhadap akhirat adalah zuhud di dunia, kunci keimanan adalah tafakkur pada hal yang diperintahkan Allah, keselamatan bagi-Nya, serta keikhlasan terhadap-Nya di dalam kecintaan, kebencian, melakukan, dan meninggalkan, kunci hidupnya  hati adalah tadabbur al-Qur’an, beribadah di waktu sahur, dan meninggalkan dosa-dosa, kunci didapatkannya rahmat adalah ihsan di dalam peribadatan terhadap Khaliq dan berupaya memberi manfaat kepada para hamba-Nya, kunci rezeki adalah usaha bersama istighfar dan takwa, kunci kemuliaan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kunci persiapan untuk akhirat adalah pendeknya angan-angan, kunci semua kebaikan  adalah keinginan terhadap Allah dan kampung akhirat,  kunci semua kejelekan adalah cinta dunia dan panjangnya angan-angan.

“Ini adalah bab yang agung dari bab-bab ilmu yang paling bermanfaat, yaitu mengetahui pintu-pintu kebaikan dan kejelekan, tidaklah diberi taufik untuk mengetahuinya dan memperhatikannya kecuali seorang yang memiliki bagian dan taufik yang agung, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kunci bagi setiap kebaikan dan kejelekan, kunci dan pintu untuk masuk kepadanya sebagaimana Allah jadikan kesyirikan, kesombongan, berpaling dari apa yang disampaikan Allah kepada Rasul-Nya, dan lalai dari dzikir terhadap-Nya dan melaksanakan hak-Nya sebagai kunci ke neraka, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan khamr sebagai kunci segala dosa. Dia jadikan nyanyian sebagai kunci perzinaan, Dia jadikan melepaskan pandangan pada gamba-gambar sebagai kunci kegelisahan dan  kegandrungan, Dia jadikan kemalasan dan kesantaian sebagai kunci kerugian dan luputnya segala sesuatu, Dia jadikan kemaksiatan-kemaksiatan sebagai kunci kekufuran, Dia jadikan dusta sebagai kunci kenifakan (kemunafikan -ed), Dia jadikan kekikiran dan ketamakan sebagai kunci kebakhilan, memutus silaturahim, serta mengambil harta dengan cara yang tidak halal dan Dia jadikan berpaling dari apa yang dibawa Rasul sebagai kunci segala kebid’ahan dan kesesatan.
“Perkara-perkara ini tidaklah membenarkannya kecuali setiap orang yang memiliki ilmu yang shahih dan akal yang bisa mengetahui dengannya apa yang ada dalam dirinya dan apa yang berwujud dari kebaikan dan kejelekan. Maka sepantasnya seorang hamba memperhatikan dengan sebaik-baiknya ilmu terhadap kunci-kunci ini dan kunci-kunci yang dijadikan untuknya.” (Hadil Arwah 1/48-49)
Dikutip dari artikel Kunci Kebaikan dan Kunci Kejelekan Majalah Al-Furqon No. 77 1429/2008 oleh Ummul Hasan
***
www.muslimah.or.id

**Artikel: Ummu Zakaria

Khutbah Syaikh Utsaimin (Penjelasan Tentang Sebagian Nama dan Sifat Allah Ta’ala)

Segala puji hanyalah millik Allah, Dzat yang memiliki sifat yang sempurna lagi tinggi. Dialah yang memiliki nama yang maha agung lagi maha baik. Menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Dialah Ar-Rahman(Yang Maha pengasih) yang beristiwa diatas ‘Arsy.
Aku bersaksi tiada illah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya baik dalam uluhiyyahrububiyyah dan dalam pengaturan alam semesta. Tidak ada cacat sedikitpun dalam sifat-sifat-Nya dan tidak ada yang tertolak dalam ketetapan-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau lah orang yang sangat tunduk kepada Rab-Nya, meminta tolong hanya kepada-Nya baik dalam perkara kecil maupun besar. Semoga shalawat Allah atasnya, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang mengenal kebenaran (agama ini) dengan dalil. Semoga Allah mencurahkan keselamatan baginya.
Amma ba’du,
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ketahuilah bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah dalam seluruh sifat-sifatNya. Tidak ada yang satupun yang serupa dalam nama dan ketetapan-Nya.

Dialah Allah , Dzat dimana hati seorang hamba menyembah-Nya dengan kecintaan dan pengagungan.
Dialah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dzat yang memiliki kasih sayang kepada hamba yang melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Tidak ada satupun nikmat yang engkau dapatkan dan engkau rasakan kecuali semuanya berasal dari rahmat-Nya. Tidak ada bahaya yang bisa engkau hindari kecuali semata-mata karena pengaruh rahmat-Nya pula.
Dialah Al-mulk, pemilik seluruh alam baik yang diatas maupun segala sesuatu yang ada dibawah bumi. Tidak ada satupun benda yang bergerak kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Dan tidak ada satupun benda yang diam kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya.
Dialah Al-Quddus , Dzat yang suci dan jauh dari kekurangan dan aib. Dialah Allah yang telah menciptakan langit dengan segala sesuatu yang menghiasinya termasuk berbagai bintang dan bermacam-macam planet. Dia menciptakan bumi dengan segala sesuatu yang ada didalamnya baik lelautan, pepohonan, gunung-gunung, berbagai kebaikan dan kehidupan yang cukup. Dan Allah mencitapkan semua itu dan segala sesuatu diantara langit dan bumi dalam enam hari sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Dan tidaklah Allah tertimpa rasa letih dan kecapekan.
Dialah Al-Qawiy Al-Qahhar (Yang Maha Kuat dan Maha Mengalahkan) Tidak ada satupun makhluk (yang tercipta) kecuali atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Dan tidak ada satupun kerajaan kecuali tunduk dan hina dihadapan keagungan dan kekuasaan-Nya.
Dialah Al-’Alim, Dzat yang mengetahui semua rahasia dan segala sesuatu yang tersembunyi. Dialah Dzat yang mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan lautan, tidak ada satupun daun yang gugur kecuali atas pengetahuan-Nya. Begitu juga tidak ada satupun bijian yang tumbuh dikegelapan bumi, yang basah maupun yang kering kecuali semua telah tertulis di kitab-Nya yang jelas (lauhul mafhfudz). Dan Dialah Dzat yang mengetahui janin yang dikandung oleh seorang wanita dan yang dilahirkannya. Dialah Dzat yang mengetahui keragu-raguan dalam hati seorang hamba sebelum ia mengungkapkannya. Dzat yang Maha dekat dan menjadi saksi atas semua yang terjadi pada diri seorang hamba. Tidak ada satupun benda dilangit dan dibumi yang jauh dari (pegilmuan) Rabb mu baik yang besarnya sebiji zarrah ataupun yang lebih dari itu.
Dialah Al-’Aliyul A’la, Yang Maha Tinggi baik Dzat dan sifat-sifat-Nya. Tingginya dzat Allah karena Dia berada diatas ‘Arsy-Nya yang tinggi dan tingginya sifat Allah karena tidak ada satupun makhluk yang menyerupai-nya.
Dialah Al-Jabbar, Dzat yang Maha Perkasa, yang memberi kekuatan (bagi yang kalah) dan mencukupi yang lemah dan Dzat yang mampu menyiksa dengan kekuasaan dan ketinggian-Nya.
Dialah Al-Ghafur, Dzat yang mengampuni dosa-dosa meski telah menggunung dan Dzat yang menutupi aib-aib meski tak terhingga jumlahnya. Dalam hadits qudsi dari AllahTabaraka Wa Ta’ala berfirman,
Wahai anak adam, jika engkau berdoa dan berharap (hanya) kepada-Ku maka akan Ku ampuni semua dosa-dosamu yang telah lalu dan Aku tidak peduli. Wahai anak adam, kalau senadainya engkau mendatangi-Ku dengan membawa dosa dan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa denganKu dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikitpun (mati diatas tauhid) maka Aku akan memberi ampunan sebesar itu pula.
Dialah Al-Khalaq Al-Qadir, Dzat yang menahan langit dan bumi dengan kekuatan-Nya agar tetap kokoh. Dan dialah dzat yang menahan langit agar tidak jatuh kebumi. Semua itu terjadi karena atas ijin-Nya.
Dialah Al-Hakim, (Yang Maha Bijaksana) baik dalam hukum dan ketetapan-Nya. Tidaklah Dia menciptakan segala seuatu dengan kesia-siaan dan tidaklah Allah mensyariatkan (suatu hukum) kepada hamba-Nya dengan bermain-main dan senda gurau, disamping itu, segala hukum hanya milik-Nya dari awal hingga akhir. Demikian itu, karena hukum itu hanya milik-Nya dari awal hingga akhir.
Dialah Al-Ghaniy, Dzat Yang Maha kaya yang tidak butuh kepada seluruh makhluk-Nya.
Dialah Al-Karim, Dzat Yang Maha Pemurah dengan limpahan pemberian dan anugrah-Nya. Dan tangan-Nya tidak pernah mengurangi jatah pemberian (kepada makhluk-Nya) siang dan malam.
Tidakkah engkau lihat apa yang Allah berikan sejak penciptaan langit dan bumi maka tidak ada yang berkurang sedikitpun apa yang ada di sisi kanan-Nya. Dimana ada pembatas cahaya, kalau seandainya saja Allah menyingkap cahaya tersebut sungguh kesucian wajah-Nya maka akan membakar setiap makhluk sejauh pandangan matanya.
akan menyengat karena inilah tujuan akhir penglihatan hamba (yaitu melihat wajah Allah kelak).
Dalam sebuah hadits Allah Ta’ala berfirman,
Wahai hambaKu kalau seandainya saja engkau semua berkumpul dari yang pertama sampai yang terakhir baik dari golongan manusia dan jin semuanya berdiri di satu tempat kemudian meminta dan memohon kepadaKu dan kemudian Aku kabulkan dari setiap permintaan maka itu semua tidaklah mengurangi sedikitpun apa yang ada disisiKu kecuali hanya seperti berkurangnya air ketika pena dicelupkan kedalam lautan.
Dalam riwayat lain,
Demikian itu dikarenakan Aku adalah Dzat Yang Maha Baik lagi Maha Kaya dan Maha Mulia. Aku berbuat sesuai dengan apa yang Aku kehendaki. pemberianKu adalah kalam dan adzabKu adalah kalam. Segala seuatu jika saja Aku kehendaki (kebneradaaanya) maka cukuplah Aku katakan, ‘Kun fayakun’(jadilah! Maka terjadi).”
Wahai saudara-sadauraku…
Ini adalah penjelasan yang mudah (dipahami) tentang nama dan sifat Allah Ta’ala. Dan setiap nama Allah Ta’ala memiliki makna (yang bisa dipahami). Sesungguhnya nama-nama Allah Ta’ala tidak terbatas dengan jumlah tertentu dan diantara nama Allah ada 99 nama, barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga. Yang dimaksud ihsha’ (menghafal) disni adalah mengenal nama-nama Allah secara lafadz, makna dan beribadah kepada Allah dengan nama-nama tersebut.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Aku  berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan hanya milik Allah nama-nama yang terbaik (asmaul husna) maka berdoalah dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-namaNya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم
Semoga Allah memberkahiku dan engkau sekalian dalam Al-Qur’an Yang Agung.
***
artikel muslimah.or.id
Maraji’: Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibni Utsaimin-6, Maktabah Asy-Syamilah.
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.or.id
Murojaah: Ust. Ammi Nur Baits

**Artikel: Ummu Zakaria